Monday, May 31, 2010

Mahasiswa Tuding Kejati Tak Bernyali




Faktanya, penyidik Kejati lamban dalam menuntaskan sejumlah kasus dugaan korupsi di Bengkulu. Diantaranya kasus dispendagate yang telah menyeret Gubenur Bengkulu Agusrin M Najamudin sebagai tersangka. Juga kasus dugaan korupsi pembangunan 3 Kantor Camat dan 13 Kantor Lurah Kota Bengkulu yang menyeret mantan Walikota Bengkulu H Chalik Effendi, SE, MM selaku tersangka.

Aksi yang melibatkan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Provinsi Bengkulu ini mendesak pihak Kejati menegakkan supremasi hukum di “bumi Rafflesia”. Bentuk nyatanya dengan menuntaskan pengusutan kedua kasus tersebut. Diantaranya segera mengirim berkas Agusrin ke PN Jakarta Selatan untuk segera disidang. Termasuk mendesak penyidik menahan Chalik yang saat ini mencalonkan diri di Pilkada OKU Selatan Sumsel.

Sekitar 40 massa yang mewakili BEM Unib, BEM STAIN, BEM UMB, KAMDA (KAMMI Daerah) dan IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadyah) tiba di depan Kantor Kejati di Jalan S Parman pukul 10.30 WIB dan mulai berorasi. Sebelumnya, massa long march di depan Mesjid Jamik dan mulai berorasi menuju Bundaran Tugu Simpang Lima. Namun aksi sempat dihalau Polisi saat long march.

Pemicunya lantaran masalah izin. Polisi sempat mengingatkan aksi tidak dapat dilanjutkan lantaran izin yang dikirim perwakilan mahasiswa menyalahi aturan. Dimana izin baru diberikan ke pihak Polres Bengkulu Kamis (20/5) malam. Sedangkan dalam aturan, minimal 3 hari sebelum aksi digelar surat izin sudah dilayangkan.

Namun mahasiswa bersikeras aksi tidak dapat dibatalkan. Setelah difasilitasi Wakapolres Bengkulu Kompol Kurniawan Affandi, S.Ik dan Kabag Ops Kompol A Desri Sandi, S.Ik akhirnya massa diizinkan melanjutkan rencana aksinya. Tentunya setelah Koordinator Lapangan (Korlap) Mu’amar dari BEM Unib menjamin aksi akan berjalan tertib alias tidak anarkhis.

Di bawah arahan Korlap, massa disambut puluhan personel polisi berpakaian lengkap dan pakaian preman yang sudah siaga melakukan penjagaan. Aksi berlangsung tertib tanpa ada tindakan anarkhis. Setelah berorasi sekitar 15 menit di depan gerbang Kejati, massa meminta Kajati Bengkulu Fietra Sany, SH, MH keluar.

Namun permintaan mahasiswa tak dipenuhi, sama seperti biasanya, pihak Kejati mewakilkan Kasi Penkum dan Humas Santosa, SH dan Kasi Sospol Ahmad Mazoola, SH menemui mahasiswa. Namun massa tidak puas hingga akhirnya pihak Kejati mengizinkan 8 orang perwakilan massa masuk ruang lobi Kejati guna menyampaikan aspirasinya dengan kepala dingin.

Pertemuan Berlangsung Panas

Mahasiswa yang diwakili Anton (BEM STAIN), Organdi (BEM UMB), Sony Taurus (BEM UMB), Melyansori (KAMDA), Simbuldin Amin (KAMDA), Harlianto (Wapresma Unib), Pebtison (BEM Unib) dan Ariyanto (BEM UMB) meminta Kajati menemui mereka. Namun tidak dipenuhi. Santosa berdalih ia sudah mendapat mandat dari Kajati untuk menyambut kedatangan mahasiswa.

Dalam kesempatan itu, Melyansori yang menjadi juru bicara massa menyampaikan tuntutannya mendesak agar penyidik Kejati segera menjemput paksa Chalik, tidak tebang pilih dalam menegakkan supremasi hukum. Juga menuntaskan kasus Dispendagate yang menyeret Gubernur.

Namun tuntutan mahasiswa ini lagi-lagi dijawab Santosa akan dikoordinasikan dulu dengan pimpinan (Kajati, red) sehingga membuat suasana semakin panas. Merasa tuntutan tak terpenuhi, akhirnya mahasiswa meninggalkan ruangan sembari mengutarakan aparat Kejati tidak punya nyali menindak pemimpin yang bobrok dan tidak berpihak kepada mayarakat. Bahkan massa sempat meminta untuk menurunkan bendera di Kantor Kejati menjadi setengah tiang saja pertanda kekecewaan mahasiswa pada Kejati. Namun pihak Kejati tidak mengizinkan.

Suasana kembali memanas. Namun kembali mereda setelah polisi yang melakukan pengamanan memberikan pengertian dan siap melakukan tindakan tegas jika mahasiswa tetap memaksakan kehendaknya. Sebab penurunan bendera itu sama saja maknanya dengan menghina negara. Tak lama perwakilan kembali ke barisan massa dan akhirnya membubarkan diri.

“Perjuangan kita mahasiswa tidak pernah dihargai. Aparat tidak punya nyali menindak pemimpin yang lebih mementingkan pribadi daripada rakyatnya,” kata Melyansori kepada RB, usai demo.

Dimintai tanggapan atas aksi demo ini, Kajati Bengkulu Fietra Sany, SH,MH yang keluar ruangan bermaksud pulang sempat menolak. Setelah didesak, Fietra mengatakan aksi mahasiswa biasa-biasa saja. Hak mahasiswa untuk berorasi dan menyatakan pendapat. Namun apa yang disampaikan mahasiswa dipandangnya sebagai suatu pandangan yang keliru.

“Lihat saja buktinya, banyak kasus korupsi yang berhasil kami tuntaskan. Bahkan menyeret tersangkanya ke meja hukum,” kata pria berkumis tebal ini sembari menghembuskan asap rokoknya menuju mobil meninggalkan kalangan wartawan. (sca)

Short story

Hearts and Crosses
by O. Henry
(1862-1910)
Baldy Woods reached for the bottle, and got it. Whenever Baldy went for anything he usually--but this is not Baldy's story. He poured out a third drink that was larger by a finger than the first and second. Baldy was in consultation; and the consultee is worthy of his hire.
"I'd be king if I was you," said Baldy, so positively that his holster creaked and his spurs rattled.
Webb Yeager pushed back his flat-brimmed Stetson, and made further disorder in his straw-coloured hair. The tonsorial recourse being without avail, he followed the liquid example of the more resourceful Baldy.
"If a man marries a queen, it oughtn't to make him a two-spot," declared Webb, epitomising his grievances.
"Sure not," said Baldy, sympathetic, still thirsty, and genuinely solicitous concerning the relative value of the cards. "By rights you're a king. If I was you, I'd call for a new deal. The cards have been stacked on you--I'll tell you what you are, Webb Yeager."
"What?" asked Webb, with a hopeful look in his pale-blue eyes.
"You're a prince-consort."
"Go easy," said Webb. "I never blackguarded you none."
"It's a title," explained Baldy, "up among the picture-cards; but it don't take no tricks. I'll tell you, Webb. It's a brand they're got for certain animals in Europe. Say that you or me or one of them Dutch dukes marries in a royal family. Well, by and by our wife gets to be queen. Are we king? Not in a million years. At the coronation ceremonies we march between little casino and the Ninth Grand Custodian of the Royal Hall Bedchamber. The only use we are is to appear in photographs, and accept the responsibility for the heir- apparent. That ain't any square deal. Yes, sir, Webb, you're a prince- consort; and if I was you, I'd start a interregnum or a habeus corpus or somethin'; and I'd be king if I had to turn from the bottom of the deck."
Baldy emptied his glass to the ratification of his Warwick pose.
"Baldy," said Webb, solemnly, "me and you punched cows in the same outfit for years. We been runnin' on the same range, and ridin' the same trails since we was boys. I wouldn't talk about my family affairs to nobody but you. You was line-rider on the Nopalito Ranch when I married Santa McAllister. I was foreman then; but what am I now? I don't amount to a knot in a stake rope."
"When old McAllister was the cattle king of West Texas," continued Baldy with Satanic sweetness, "you was some tallow. You had as much to say on the ranch as he did."
"I did," admitted Webb, "up to the time he found out I was tryin' to get my rope over Santa's head. Then he kept me out on the range as far from the ranch-house as he could. When the old man died they commenced to call Santa the 'cattle queen.' I'm boss of the cattle--that's all. She 'tends to all the business; she handles all the money; I can't sell even a beef-steer to a party of campers, myself. Santa's the 'queen'; and I'm Mr. Nobody."
"I'd be king if I was you," repeated Baldy Woods, the royalist. "When a man marries a queen he ought to grade up with her--on the hoof-- dressed--dried--corned--any old way from the chaparral to the packing- house. Lots of folks thinks it's funny, Webb, that you don't have the say-so on the Nopalito. I ain't reflectin' none on Miz Yeager--she's the finest little lady between the Rio Grande and next Christmas--but a man ought to be boss of his own camp."
The smooth, brown face of Yeager lengthened to a mask of wounded melancholy. With that expression, and his rumpled yellow hair and guileless blue eyes, he might have been likened to a schoolboy whose leadership had been usurped by a youngster of superior strength. But his active and sinewy seventy-two inches, and his girded revolvers forbade the comparison.
"What was that you called me, Baldy?" he asked. "What kind of a concert was it?"
"A 'consort,'" corrected Baldy--"a 'prince-consort.' It's a kind of short-card pseudonym. You come in sort of between Jack-high and a four-card flush."
Webb Yeager sighed, and gathered the strap of his Winchester scabbard from the floor.
"I'm ridin' back to the ranch to-day," he said half-heartedly. "I've got to start a bunch of beeves for San Antone in the morning."
"I'm your company as far as Dry Lake," announced Baldy. "I've got a round-up camp on the San Marcos cuttin' out two-year-olds."
The two companeros mounted their ponies and trotted away from the little railroad settlement, where they had foregathered in the thirsty morning.
At Dry Lake, where their routes diverged, they reined up for a parting cigarette. For miles they had ridden in silence save for the soft drum of the ponies' hoofs on the matted mesquite grass, and the rattle of the chaparral against their wooden stirrups. But in Texas discourse is seldom continuous. You may fill in a mile, a meal, and a murder between your paragraphs without detriment to your thesis. So, without apology, Webb offered an addendum to the conversation that had begun ten miles away.
"You remember, yourself, Baldy, that there was a time when Santa wasn't quite so independent. You remember the days when old McAllister was keepin' us apart, and how she used to send me the sign that she wanted to see me? Old man Mac promised to make me look like a colander if I ever come in gun-shot of the ranch. You remember the sign she used to send, Baldy--the heart with a cross inside of it?"
"Me?" cried Baldy, with intoxicated archness. "You old sugar-stealing coyote! Don't I remember! Why, you dad-blamed old long-horned turtle- dove, the boys in camp was all cognoscious about them hiroglyphs. The 'gizzard-and-crossbones' we used to call it. We used to see 'em on truck that was sent out from the ranch. They was marked in charcoal on the sacks of flour and in lead-pencil on the newspapers. I see one of 'em once chalked on the back of a new cook that old man McAllister sent out from the ranch--danged if I didn't."
"Santa's father," explained Webb gently, "got her to promise that she wouldn't write to me or send me any word. That heart-and-cross sign was her scheme. Whenever she wanted to see me in particular she managed to put that mark on somethin' at the ranch that she knew I'd see. And I never laid eyes on it but what I burnt the wind for the ranch the same night. I used to see her in that coma mott back of the little horse-corral."
"We knowed it," chanted Baldy; "but we never let on. We was all for you. We knowed why you always kept that fast paint in camp. And when we see that gizzard-and-crossbones figured out on the truck from the ranch we knowed old Pinto was goin' to eat up miles that night instead of grass. You remember Scurry--that educated horse-wrangler we had-- the college fellow that tangle-foot drove to the range? Whenever Scurry saw that come-meet-your-honey brand on anything from the ranch, he'd wave his hand like that, and say, 'Our friend Lee Andrews will again swim the Hell's point to-night.'"
"The last time Santa sent me the sign," said Webb, "was once when she was sick. I noticed it as soon as I hit camp, and I galloped Pinto forty mile that night. She wasn't at the coma mott. I went to the house; and old McAllister met me at the door. 'Did you come here to get killed?' says he; 'I'll disoblige you for once. I just started a Mexican to bring you. Santa wants you. Go in that room and see her. And then come out here and see me.'
"Santa was lyin' in bed pretty sick. But she gives out a kind of a smile, and her hand and mine lock horns, and I sets down by the bed-- mud and spurs and chaps and all. 'I've heard you ridin' across the grass for hours, Webb,' she says. 'I was sure you'd come. You saw the sign?' she whispers. 'The minute I hit camp,' says I. ''Twas marked on the bag of potatoes and onions.' 'They're always together,' says she, soft like--'always together in life.' 'They go well together,' I says, 'in a stew.' 'I mean hearts and crosses,' says Santa. 'Our sign--to love and to suffer--that's what they mean.'
"And there was old Doc Musgrove amusin' himself with whisky and a palm-leaf fan. And by and by Santa goes to sleep; and Doc feels her forehead; and he says to me: 'You're not such a bad febrifuge. But you'd better slide out now; for the diagnosis don't call for you in regular doses. The little lady'll be all right when she wakes up.'
"I seen old McAllister outside. 'She's asleep,' says I. 'And now you can start in with your colander-work. Take your time; for I left my gun on my saddle-horn.'
"Old Mac laughs, and he says to me: 'Pumpin' lead into the best ranch- boss in West Texas don't seem to me good business policy. I don't know where I could get as good a one. It's the son-in-law idea, Webb, that makes me admire for to use you as a target. You ain't my idea for a member of the family. But I can use you on the Nopalito if you'll keep outside of a radius with the ranch-house in the middle of it. You go upstairs and lay down on a cot, and when you get some sleep we'll talk it over.'"
Baldy Woods pulled down his hat, and uncurled his leg from his saddle- horn. Webb shortened his rein, and his pony danced, anxious to be off. The two men shook hands with Western ceremony.
"Adios, Baldy," said Webb, "I'm glad I seen you and had this talk."
With a pounding rush that sounded like the rise of a covey of quail, the riders sped away toward different points of the compass. A hundred yards on his route Baldy reined in on the top of a bare knoll, and emitted a yell. He swayed on his horse; had he been on foot, the earth would have risen and conquered him; but in the saddle he was a master of equilibrium, and laughed at whisky, and despised the centre of gravity.
Webb turned in his saddle at the signal.
"If I was you," came Baldy's strident and perverting tones, "I'd be king!"
At eight o'clock on the following morning Bud Turner rolled from his saddle in front of the Nopalito ranch-house, and stumbled with whizzing rowels toward the gallery. Bud was in charge of the bunch of beef-cattle that was to strike the trail that morning for San Antonio. Mrs. Yeager was on the gallery watering a cluster of hyacinths growing in a red earthenware jar.
"King" McAllister had bequeathed to his daughter many of his strong characteristics--his resolution, his gay courage, his contumacious self-reliance, his pride as a reigning monarch of hoofs and horns. Allegro and fortissimo had been McAllister's temp and tone. In Santa they survived, transposed to the feminine key. Substantially, she preserved the image of the mother who had been summoned to wander in other and less finite green pastures long before the waxing herds of kine had conferred royalty upon the house. She had her mother's slim, strong figure and grave, soft prettiness that relieved in her the severity of the imperious McAllister eye and the McAllister air of royal independence.
Webb stood on one end of the gallery giving orders to two or three sub-bosses of various camps and outfits who had ridden in for instructions.
"Morning," said Bud briefly. "Where do you want them beeves to go in town--to Barber's, as usual?"
Now, to answer that had been the prerogative of the queen. All the reins of business--buying, selling, and banking--had been held by her capable fingers. The handling of cattle had been entrusted fully to her husband. In the days of "King" McAllister, Santa had been his secretary and helper; and she had continued her work with wisdom and profit. But before she could reply, the prince-consort spake up with calm decision:
"You drive that bunch to Zimmerman and Nesbit's pens. I spoke to Zimmerman about it some time ago."
Bud turned on his high boot-heels.
"Wait!" called Santa quickly. She looked at her husband with surprise in her steady gray eyes.
"Why, what do you mean, Webb?" she asked, with a small wrinkle gathering between her brows. "I never deal with Zimmerman and Nesbit. Barber has handled every head of stock from this ranch in that market for five years. I'm not going to take the business out of his hands." She faced Bud Turner. "Deliver those cattle to Barber," she concluded positively.
Bud gazed impartially at the water-jar hanging on the gallery, stood on his other leg, and chewed a mesquite-leaf.
"I want this bunch of beeves to go to Zimmerman and Nesbit," said Webb, with a frosty light in his blue eyes.
"Nonsense," said Santa impatiently. "You'd better start on, Bud, so as to noon at the Little Elm water-hole. Tell Barber we'll have another lot of culls ready in about a month."
Bud allowed a hesitating eye to steal upward and meet Webb's. Webb saw apology in his look, and fancied he saw commiseration.
"You deliver them cattle," he said grimly, "to--"
"Barber," finished Santa sharply. "Let that settle it. Is there anything else you are waiting for, Bud?"
"No, m'm," said Bud. But before going he lingered while a cow's tail could have switched thrice; for man is man's ally; and even the Philistines must have blushed when they took Samson in the way they did.
"You hear your boss!" cried Webb sardonically. He took off his hat, and bowed until it touched the floor before his wife.
"Webb," said Santa rebukingly, "you're acting mighty foolish to-day."
"Court fool, your Majesty," said Webb, in his slow tones, which had changed their quality. "What else can you expect? Let me tell you. I was a man before I married a cattle-queen. What am I now? The laughing-stock of the camps. I'll be a man again."
Santa looked at him closely.
"Don't be unreasonable, Webb," she said calmly. "You haven't been slighted in any way. Do I ever interfere in your management of the cattle? I know the business side of the ranch much better than you do. I learned it from Dad. Be sensible."
"Kingdoms and queendoms," said Webb, "don't suit me unless I am in the pictures, too. I punch the cattle and you wear the crown. All right. I'd rather be High Lord Chancellor of a cow-camp than the eight-spot in a queen-high flush. It's your ranch; and Barber gets the beeves."
Webb's horse was tied to the rack. He walked into the house and brought out his roll of blankets that he never took with him except on long rides, and his "slicker," and his longest stake-rope of plaited raw-hide. These he began to tie deliberately upon his saddle. Santa, a little pale, followed him.
Webb swung up into the saddle. His serious, smooth face was without expression except for a stubborn light that smouldered in his eyes.
"There's a herd of cows and calves," said he, "near the Hondo water- hole on the Frio that ought to be moved away from timber. Lobos have killed three of the calves. I forgot to leave orders. You'd better tell Simms to attend to it."
Santa laid a hand on the horse's bridle, and looked her husband in the eye.
"Are you going to leave me, Webb?" she asked quietly.
"I am going to be a man again," he answered.
"I wish you success in a praiseworthy attempt," she said, with a sudden coldness. She turned and walked directly into the house.
Webb Yeager rode to the southeast as straight as the topography of West Texas permitted. And when he reached the horizon he might have ridden on into blue space as far as knowledge of him on the Nopalito went. And the days, with Sundays at their head, formed into hebdomadal squads; and the weeks, captained by the full moon, closed ranks into menstrual companies crying "Tempus fugit" on their banners; and the months marched on toward the vast camp-ground of the years; but Webb Yeager came no more to the dominions of his queen.
One day a being named Bartholomew, a sheep-man--and therefore of little account--from the lower Rio Grande country, rode in sight of the Nopalito ranch-house, and felt hunger assail him. Ex consuetudine he was soon seated at the mid-day dining table of that hospitable kingdom. Talk like water gushed from him: he might have been smitten with Aaron's rod--that is your gentle shepherd when an audience is vouchsafed him whose ears are not overgrown with wool.
"Missis Yeager," he babbled, "I see a man the other day on the Rancho Seco down in Hidalgo County by your name--Webb Yeager was his. He'd just been engaged as manager. He was a tall, light-haired man, not saying much. Perhaps he was some kin of yours, do you think?"
"A husband," said Santa cordially. "The Seco has done well. Mr. Yeager is one of the best stockmen in the West."
The dropping out of a prince-consort rarely disorganises a monarchy. Queen Santa had appointed as mayordomo of the ranch a trusty subject, named Ramsay, who had been one of her father's faithful vassals. And there was scarcely a ripple on the Nopalito ranch save when the gulf-breeze created undulations in the grass of its wide acres.
For several years the Nopalito had been making experiments with an English breed of cattle that looked down with aristocratic contempt upon the Texas long-horns. The experiments were found satisfactory; and a pasture had been set aside for the blue-bloods. The fame of them had gone forth into the chaparral and pear as far as men ride in saddles. Other ranches woke up, rubbed their eyes, and looked with new dissatisfaction upon the long-horns.
As a consequence, one day a sunburned, capable, silk-kerchiefed nonchalant youth, garnished with revolvers, and attended by three Mexican vaqueros, alighted at the Nopalito ranch and presented the following business-like epistle to the queen thereof:
Mrs. Yeager--The Nopalito Ranch:
Dear Madam:
I am instructed by the owners of the Rancho Seco to purchase 100 head of two and three-year-old cows of the Sussex breed owned by you. If you can fill the order please deliver the cattle to the bearer; and a check will be forwarded to you at once.
Respectfully,
Webster Yeager,
Manager the Rancho Seco.
Business is business, even--very scantily did it escape being written "especially"--in a kingdom.
That night the 100 head of cattle were driven up from the pasture and penned in a corral near the ranch-house for delivery in the morning.
When night closed down and the house was still, did Santa Yeager throw herself down, clasping that formal note to her bosom, weeping, and calling out a name that pride (either in one or the other) had kept from her lips many a day? Or did she file the letter, in her business way, retaining her royal balance and strength?
Wonder, if you will; but royalty is sacred; and there is a veil. But this much you shall learn:
At midnight Santa slipped softly out of the ranch-house, clothed in something dark and plain. She paused for a moment under the live-oak trees. The prairies were somewhat dim, and the moonlight was pale orange, diluted with particles of an impalpable, flying mist. But the mock-bird whistled on every bough of vantage; leagues of flowers scented the air; and a kindergarten of little shadowy rabbits leaped and played in an open space near by. Santa turned her face to the southeast and threw three kisses thitherward; for there was none to see.
Then she sped silently to the blacksmith-shop, fifty yards away; and what she did there can only be surmised. But the forge glowed red; and there was a faint hammering such as Cupid might make when he sharpens his arrow-points.
Later she came forth with a queer-shaped, handled thing in one hand, and a portable furnace, such as are seen in branding-camps, in the other. To the corral where the Sussex cattle were penned she sped with these things swiftly in the moonlight.
She opened the gate and slipped inside the corral. The Sussex cattle were mostly a dark red. But among this bunch was one that was milky white--notable among the others.
And now Santa shook from her shoulder something that we had not seen before--a rope lasso. She freed the loop of it, coiling the length in her left hand, and plunged into the thick of the cattle.
The white cow was her object. She swung the lasso, which caught one horn and slipped off. The next throw encircled the forefeet and the animal fell heavily. Santa made for it like a panther; but it scrambled up and dashed against her, knocking her over like a blade of grass.
Again she made her cast, while the aroused cattle milled around the four sides of the corral in a plunging mass. This throw was fair; the white cow came to earth again; and before it could rise Santa had made the lasso fast around a post of the corral with a swift and simple knot, and had leaped upon the cow again with the rawhide hobbles.
In one minute the feet of the animal were tied (no record-breaking deed) and Santa leaned against the corral for the same space of time, panting and lax.
And then she ran swiftly to her furnace at the gate and brought the branding-iron, queerly shaped and white-hot.
The bellow of the outraged white cow, as the iron was applied, should have stirred the slumbering auricular nerves and consciences of the near-by subjects of the Nopalito, but it did not. And it was amid the deepest nocturnal silence that Santa ran like a lapwing back to the ranch-house and there fell upon a cot and sobbed--sobbed as though queens had hearts as simple ranchmen's wives have, and as though she would gladly make kings of prince-consorts, should they ride back again from over the hills and far away.
In the morning the capable, revolvered youth and his vaqueros set forth, driving the bunch of Sussex cattle across the prairies to the Rancho Seco. Ninety miles it was; a six days' journey, grazing and watering the animals on the way.
The beasts arrived at Rancho Seco one evening at dusk; and were received and counted by the foreman of the ranch.
The next morning at eight o'clock a horseman loped out of the brush to the Nopalito ranch-house. He dismounted stiffly, and strode, with whizzing spurs, to the house. His horse gave a great sigh and swayed foam-streaked, with down-drooping head and closed eyes.
But waste not your pity upon Belshazzar, the flea-bitten sorrel. To-day, in Nopalito horse-pasture he survives, pampered, beloved, unridden, cherished record-holder of long-distance rides.
The horseman stumbled into the house. Two arms fell around his neck, and someone cried out in the voice of woman and queen alike: "Webb-- oh, Webb!"
"I was a skunk," said Webb Yeager.
"Hush," said Santa, "did you see it?"
"I saw it," said Webb.
What they meant God knows; and you shall know, if you rightly read the primer of events.
"Be the cattle-queen," said Webb; "and overlook it if you can. I was a mangy, sheep-stealing coyote."
"Hush!" said Santa again, laying her fingers upon his mouth. "There's no queen here. Do you know who I am? I am Santa Yeager, First Lady of the Bedchamber. Come here."
She dragged him from the gallery into the room to the right. There stood a cradle with an infant in it--a red, ribald, unintelligible, babbling, beautiful infant, sputtering at life in an unseemly manner.
"There's no queen on this ranch," said Santa again. "Look at the king. He's got your eyes, Webb. Down on your knees and look at his Highness."
But jingling rowels sounded on the gallery, and Bud Turner stumbled there again with the same query that he had brought, lacking a few days, a year ago.
"'Morning. Them beeves is just turned out on the trail. Shall I drive 'em to Barber's, or--"
He saw Webb and stopped, open-mouthed.
"Ba-ba-ba-ba-ba-ba!" shrieked the king in his cradle, beating the air with his fists.
"You hear your boss, Bud," said Webb Yeager, with a broad grin--just as he had said a year ago.
And that is all, except that when old man Quinn, owner of the Rancho Seco, went out to look over the herd of Sussex cattle that he had bought from the Nopalito ranch, he asked his new manager:
"What's the Nopalito ranch brand, Wilson?"
"X Bar Y," said Wilson.
"I thought so," said Quinn. "But look at that white heifer there; she's got another brand--a heart with a cross inside of it. What brand is that?"

Sunday, May 16, 2010

morphology

What is a morpheme?


Definition


A morpheme is the smallest meaningful unit in the grammar of a language.

What is an affix? (Linguistics)


Definition


An affix is a bound morpheme that is joined before, after, or within a root or stem.

What is a suffix?


Definition


A suffix is an affix that is attached to the end of a root or stem.


What is suffixation?


Definition


Suffixation is a morphological process whereby a bound morpheme is attached to the end of a stem.


The kind of affix involved in this process is called a suffix.

What is a morphological process?


Definition


A morphological process is a means of changing a stem to adjust its meaning to fit its syntactic and communicational context.
Discussion


Most languages that are agglutinative in any way use suffixation. Some of these languages also use prefixation and infixation. Very few languages use only prefixation, and none employ only infixation or any of the other types of morphological processes listed below.

What is affixation?


Definition


Affixation is the morphological process whereby an affix is attached to a root or stem.
Example (English)

#

In English, the plural morpheme suffix is added to job, rat, and kiss to form the following forms:

* jobs
* rats
* kisses

Wednesday, May 5, 2010

A Cliff Dwelling

Sebuah Tempat Tinggal Cliff
Ada berpasir emas tampaknya langit
Dan emas tampaknya dataran berpasir.
kediaman tidak memenuhi mata
Kecuali di tepi cakrawala,
Beberapa setengah jalan dinding batu kapur,
Bahwa noda hitam bukan noda
Atau bayangan, tapi sebuah lubang gua,
Dimana seseorang yang digunakan untuk memanjat dan merangkak
Untuk beristirahat dari ketakutannya melanda.
Aku melihat kalus pada jiwanya
Yang terakhir menghilang dia
Dan kelaparan ras ramping,
Oh tahun lalu - sepuluh ribu tahun.

A Cliff Dwelling

There sandy seems the golden sky
And golden seems the sandy plain.
No habitation meets the eye
Unless in the horizon rim,
Some halfway up the limestone wall,
That spot of black is not a stain
Or shadow, but a cavern hole,
Where someone used to climb and crawl
To rest from his besetting fears.
I see the callus on his soul
The disappearing last of him
And of his race starvation slim,
Oh years ago - ten thousand years.

Robert Frost

prose and poetry

robert prose poems

klik disini

Shakespeare's Language » Blank verse, prose & rhyme Blank verseIambic rhythmTrochaic rhythmPentameter

During the sixteenth century, the form known as blank verse was introduced into English drama. This enabled playwrights to vary the kind of language spoken by their characters, and hence to allow the audience to hear different patterns of language for different purposes.

In addition, Shakespeare as a playwright did not simply use prose— the usual style of writing and speech, in which, for example, this information (apart from quotations) is written — but also rhyme.
Blank verse

This is usually defined as ‘unrhymed iambic pentameter’.

To understand this, it is necessary to realise that most English words of more than one syllable have a stressed syllable:

* when we say the word ‘ messenger’ we slightly stress the first syllable
* in ‘occ asion’ and ‘in visible’ we stress the second
* in ‘satis faction’ the third.

If we choose words which have the same stressed syllable, a pattern emerges — for example the well-known chant from Macbeth:
‘Double, double, toil and trouble,
Fire burn and cauldron bubble’.
Fire burn and cauldron bubble’.


More on stresses: Small words such as ‘and’ and ‘the’ are usually unstressed. ‘Fire’ was pronounced as two syllables in Shakespeare’s time.

Iambic rhythm

The commonest stress pattern in spoken English is where one unstressed, or weak, syllable is followed by a stressed, or strong, one – for example: ‘He knew he had to go to school to day.’ This is called iambic rhythm.
Playwrights realised that, by using this natural inclination in a more organised way, they could simultaneously suggest real speech and yet introduce a more formal, organised pattern to their language.


More on varying the pattern: Of course, if the pattern was never varied from this weak/strong one it would sound dreadful — the sort of sing-song that Shakespeare parodies in A Midsummer Night’s Dream when Bottom thinks he is proclaiming great verse:

‘The raging rocks
And shivering shocks
Shall break the locks
Of prison gates. …’

However, an underlying iambic rhythm forms the basis of much Shakespearean speech:
‘Or rather say the cause of this de fect’ … ‘What’s Hecuba to him or he to her?’….
Trochaic rhythm
The opposite pattern (strong/weak rather than weak/strong) is known as a trochaic rhythm or metre, for example, ‘ Cloudy weather reaching Northern Ireland ….’


More on trochaic metre: In the chant of the Weird Sisters from Macbeth, we can hear that Shakespeare uses a trochaic metre to distinguish these creatures from ordinary humans — just as he does with Puck in A Midsummer Night’s Dream when Puck chants:

‘ If we shadows have off ended,
Think but this and all is mended…’

These chants also differ from most Shakespearean speeches in that:

* they have only eight syllables to the line, as opposed to ten
* they are in rhyme.

Pentameter
Lines with ten syllables, in five groups of weak/strong beats, are known as pentameter, from the Greek word for five. So, lines written in iambic rhythm, with five groups of weak/strong beats — pentameter — but unrhymed, are called blank verse.

Sunday, February 7, 2010

MANAJEMEN AKSI (DEMONSTRASI)


Manajemen AKSI l "Mahasiswa adalah aset umat. Ia bersifat elitis dan eksklusif. Jumlahnya hanya 2 % dari penduduk Indonesia yang 200 juta jiwa. Mahasiswa aktivis lebih elitis lagi, mungkin hanya ada 1 mahasiswa aktivis di antara 10 mahasiswa. Namun, agenda yang mereka perjuangkan sangat populis, dan realistis. Mahasiswa-lah yang bisa membangkitkan semangat perlawanan rakyat terhadap rezim tiran. Mahasiswa-lah yang bisa mengawal reformasi hingga ke titik tujuan. Rakyat menaruh harapan atas kekuatan intelektual dan kekuatan aksi yang mahasiswa miliki.Jadi, pahami dirimu dan sekitarmu, dan mari kita bergerak lagi ! Reformasi belum usai !”

Dengan kekuatan intelektual di atas rata-rata masyarakat awam, mahasiswa memiliki kemudahan untuk mengakses berbagai informasi wacana dan peristiwa dalam lingkup lokal hingga internasional. Begitu juga dengan kemudahan akses literatur ilmiah dan gerakan-gerakan pemikiran, yang pada tujuan akhirnya akan menentukan ideologi atau sistem hidup yang akan dijalaninya. Buku yang ia baca, informasi yang ia terima, tokoh-tokoh yang ia ajak bicara, adalah beberapa faktor utama yang kelak sangat berpengaruh terhadap idealisme hidupnya.Selain kekuatan intelektual yang identik dengan aktivitas ilmiah, mahasiswa juga memiliki kewajiban untuk menguatkan potensi kepekaan sosial politiknya. Disebut kepekaan sosial karena mahasiswa pada dasarnya adalah bagian dari rakyat. Apapun yang terjadi pada rakyat maka mahasiswa akan turut juga merasakannya. Kenaikan BBM, harga bahan pokok, listrik, dan air misalnya akan memberi ekses terhadap aktivitas kuliah. Disebut kepekaan politik, karena gejolak sosial yang terjadi umumnya selalu merupakan hasil side effect dari aktivitas politik, semisal disahkannya suatu UU. UU Ketenagakerjaan misalnya akan mempengaruhi kesejahteraan dan taraf hidup para buruh.Setelah cerdas secara profesi keilmuan dan cerdas sosial politik, maka sebagai gerakan ekstraparlementer mahasiswa memiliki kewajiban moral untuk mengimplementasikan pengetahuannya itu dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat. Atau dengan kata lain menyuarakan kepentingan kebenaran dan rakyat. Berbagai metode dapat dilakukan. Dari bentuk pendampingan, advokasi, public hearing, audiensi dengan pemerintah dan legislatif, hingga demonstrasi (aksi). Demonstrasi adalah cara paling efektif dalam menyuarakan kebenaran, khususnya jika dilaksanakan pada rezim yang antidemokratis dan tiran. Dalam makalah ini, akan dibahas sekelumit tentang manjamen demonstrasi atau aksi, yang selanjutnya akan disebut dengan MoA (Management of Action). Pengetahuan akan MoA ini menjadi penting agar niatan yang benar itu dapat mencapai hasil optimal karena dilakukan dengan cara yang benar pula. MANAJEMEN AKSIPengertianAksi (demontrasi) adalah suatu model pernyataan sikap, penyuaraan pendapat, opini, atau tuntutan yang dilakukan dengan jumlah massa terntentu dan dengan teknik tertentu agar mendapat perhatian dari pihak yang dituju tanpa menggunakan mekanisme konvensional (birokrasi). Demonstrasi juga bertujuan untuk menekan pembuat keputusan untuk melakukan sesuatu.
Latar Belakang dan Tujuan Aksi umumnya dilatarbelakangi oleh matinya jalur penyampaian aspirasi atau buntunya metode dialog.. Dalam trias politika, aspirasi rakyat diwakili oleh anggota legislatif. Namun dalam kondisi pemerintahan yang korup, para legislator tak dapat memainkan perannya, sehingga rakyat langsung mengambil ‘jalan pintas’ dalam bentuk aksi. Aksi juga dilakukan dalam rangka pembentukan opini atau mencari dukungan publik. Dengan demikian isu yang digulirkan harapannya dapat menjadi snowball. Dari isu mahasiswa menjadi isu masyarakat kebanyakan, seperti dalam kasus aksi menuntut mundur Soeharto.
Landasan Hukum Aksi adalah hak bahkan dalam situasi tertentu dapat menjadi kewajiban. Ia dilindungi oleh UU positif. Selain Declaration of Human Right (freedom of speech), hak aksi juga dilindungi oleh UUD 1945 pasal 28 beserta amandemennya. Secara lebih spesifik, aksi ini kemudian diatur dengan adanya UU No. 9/1998 tentang Mekanisme Penyampaian Pendapat di Muka Umum. UU ini mengharuskan panitia aksi harus memberikan pemberitahuan kepada pihak kepolisian setidaknya 3 hari menjelang hari H. Ketentuan lainnya adalah, didalam surat pemberitahuan itu harus ada nama penanggung jawab aksi, waktu pelaksanaan, rute yangh dilewati, isu yang dibawa, jumlah massa, dan bentuk aksi. Selain itu ada juga larangan untuk melakukan aksi pada hari-hari tertntu dan tempat-tempat tertentu. Dalam pandangan aktivis, UU ini pada awal pengesahannya dicurigai sebagai alat untuk mengibiri suara kritis mahasiswa dan rakyat. Dan pada perkembangannya, UU inilah yang digunakan oleh rezim berkuasa via aparat kepolisian untuk mematikan suara oposan, dengan banyak menyeret para aktivis ke penjara.
Kode EtikUntuk menjaga konsistensi gerakan, beberapa elemen gerakan mahasiswa memiliki kode etik aksi. Kode etik ini pula yang menjadi faktor pembeda aksi yang satu dengan aksi yang lainnya.Di KAMMI misalnya, kode etiknya adalah memulai dan menutup aksi dengan doa, tidak membaurkan peserta aksi putra dengan putri, dan tidak mencemooh seseorang dari cacat fisiknya. Faktor pembeda lainnya adalah lirik lagu-lagu perjuangan dan kata-kata pekik teriakan.MEKANISME LAHIRNYA KEPUTUSAN AKSIKeputusan aksi sebaiknya didiskusikan secara matang analisis SWOT-nya. Organisasi intra kampus mempunyai mekanisme yang berbeda namun hampir sama dengan mahasiswa ekstra. Di ekstra jalur pengambilan keputusan lebih pendek sehingga keputusan aksi dapat lebih cepat dieksekusi. Secara garis besar mekanisme lahirnya keputusan aksi adalah sbb :Diskusi awal (Tim/Dept. Khusus : bidang Sospol), dteruskan ke :Diskusi Lanjutan (pelibatan kader, (unsur UKM), menghadirkan pakar, penerbitan Pers Release), laluPembentukan Tim Teknis AksiAksi di lapangan
MERANCANG AKSIDalam merancang aksi, hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah : planning aksi, perangkat aksi, pelaksanaan, dan kegiatan paska-aksi.
Planning AksiDalam tahap perencanaan aksi, hal urgen yang perlu diperhatikan adalah :Tema / Grand Issue. Pilihlah tema atau isu yang sedang hangat menjadi bahan pembicaraan (up to date) atau relevan atau sesuai dengan kebutuhan organisasi yang bersangkutan. Kemudian fokuskan, agar informasi atau opini yang hendak dibangun tidak bias.TargetSusun target. Baik target teknis seperti pencapaian jumlah massa dan blow up media, dan target esensi seperti isu tuntutan aksi. Begitu juga target siapa yang pihak yang hendak dituju.Skenario. Seperti halnya film, aksi butuh skenario, yang menjadi acuan bergeraknya aksi. Skenario ini mencakup rute, tokoh orator, happening art, dan acara lainnya. Sebaiknya skenario disiapkan lebih dari satu. Jika ada sesuatu hal di lapangan tak memungkinkan berjalannya sebuah skenario, dapat diganti dengan skenario lain (plan B).
MassaDalam aksi yang mengandalkan massa, strategi penggalangan massa menjadi penting, demikian juga dengan cara mengendalikan massa jika massa berjumlah besar.PemberitahuanTergantung pada kebutuhan. Jika kita memutuskan untuk menulis pemberitahuan, maka lakukan sesuai dengan UU No. 9/1998. Begitu juga dengan pemberitahuan kepada media massa (release awal) agar kelak mereka dapat meliput kita.
media interestAksi yang ‘menarik’ akan disukai oleh media. Karena itu perlu diperhatikan sebuah momen yang khusus didesain untuk konsumsi jurnalis foto, selain press release untuk jurnalis berita.Format Format atau bentuk aksi adalah pilihan dari banyak bentuk aksi. Pilihannya ada dua, format kekerasan atau nirkekerasan. Sebagai ‘penjaga gawang’ gerakan moral, maka seyogyanya aksi mahasiswa bersifat nirkekerasan. Aksi nirkekerasan ini sangat bervariatif sekali. Dimulai dari aksi diam (bisu), orasi, happening art, aksi topeng, mmogok makan, hingga ke blokade, pengepungan, dan boikot.
Perangkat Aksi Perangkat aksi adalah person-person yang terlibat dalam suksesnya sebuah aksi. Mereka diantaranya adalah :KorlapKoordinator Lapangan adalah pemegang komando ketika aksi sedang berjalan. Peserta aksi harus mentaati setiap arahan dari korlap. Korlap memperoleh masukan informasi dari perangkat lain yang akan digunakannya untuk mengambil keputusan-keputusan penting. Korlap juga yang bertugas menjaga stamina massa agar tidak loyo dan tetap konsentrasi ke aksi. Korlap bukanlah amanah instant. Ia diperoleh dari proses jangka panjang. Korlap adalah orang paling mengerti tentang isu yang sedang diperjuangkan, sehingga wawasan pengetahuannya dapat dikatakan lebih banyak dari yang lainnya. Korlap dapat juga berorasi.OratorTerkadang diperlukan orator khusus selain korlap, khususnya pada aksi aliansi atau aksi yang melibatkan tokoh. Para orator ini menyampaikan orasi berdasarkan isu yang telah disepakati bersama. Bobot suatu orasi ditentukan oleh susunan kalimat, data up to date, dan kualitas pernyataan sikap. - AgitatorAgitator adalah pembangkit semangat massa dengan pekik teriakan disela-sela orasi korlap dan orator. Ia juga membantu korlap untuk menjaga stamina massa dengan memimpin lagu dan yel-yel.NegosiatorTerkadang diperlukan person yang khusus bertugas untuk melakukan negosiasi. Negosiasi ini dilakukan kepada aparat polisi atau pihak-pihak yang ingin dituju jika aksi di-setting audiensi.HumasTim Humas adalah salah satu elemen penting aksi. Tim humas bertanggung jawab dalam menjembatani aksi kepada para jurnalis. Mereka membuat pers release. Bobot Pers Release itu dibuat berdasarkan nilai-nilai jurnalistik. Disebut sukses jika media tidak bias memuat tuntutan atau opini yang hendak digulirkan oleh aksi.Security/borderTim ini bertugas menjaga keamanan peserta aksi. Mereka juga wajib untuk mengidentifikasi para penyusup atau aparat yang hendak memprovokasi agar aksi berakhir chaos. Tim ini memiliki bahasa tersendiri yang hanya diketahui oleh sedikit orang dari peserta aksi.DokumenterTim ini memback-up tim humas. Tetapi inti tugasnya adalah mendokumentasi aksi dari awal hingga akhir serta membuat kronologis aksi. Dokumentasi ini dengan kamera, handycam ataupun notes. Data ini akan digunakan sebagai bukti otentik jika aksi mengalami kekerasan dari aparat atau massa lain.MedikTugas ini memang spesifik bagi mereka yang menguasai ilmu medis. Umumnya adalah mahasiswa kedokteran atau mereka yang pernah terlibat dalam aktivitas kepalangmerahan atau bulan sabit merah. Tim ini memberikan pertolongan pertama kepada peserta aski yang mengalami cidera.- LogistikDalam aksi yang disetting lama dan melelahkan. Tim logistik bertugas untuk menyediakan sarana untuk membugarkan peserta aksi seperti air minum, snack dan sound system. Terkadang, mereka juga membuat dan mendesain kertas tuntutan atau karikatur.Tim kreatifTim ini memiliki kewenangan untuk mendesain sebuah atraksi seni atau instalasi sesuai amanat hasil musyawarah.
Pelaksanaan dan Pasca Aksi Saat massa telah terkumpul di tempat yang telah ditentukan, maka korlap sebaiknya tidak langsung memberangkatkan peserta aksi sebelum ada taujih (nasehat) dan doa. Selain itu perlu juga adanya pemanasan (warming up) dengan cara melatih yel-yel atau orasi untuk pencerdasan peserta aksi. Warming-up ini bertujuan untuk mensolidasi peserta aksi. Setelah kompak, solid, dan cerdas barulah aksi dimulai.Saat aksi, peserta wajib menghormati komnado korlap dan turut menjaga keamanan aksi hingga aksi usai. Jika aksi disetting serius atau aksi bisu maka peserta harus menjauhkan dari kegiatan senda gurau dan ketidakseriusan. Seusai aksi, maka peserta menutupnya dengan doa. Evaluasi juga dilakukan untuk meningkatkan kualitas aksi berikutnya. Tim humas juga memonitoring media untuk memantau keberhasilan blow-up media dan tingkat ke-bias-an tuntutan.
TIPS DAN TRIKSAngle fotoFoto dapat berbicara lebih banyak dari kata-kata. Maka desain aksi yang menyediakan angle foto yang baik akan membuat aksi lebih mudah ter-blow up. Misalnya: aksi LSM Pro Fauna yang membuat balon kura-kura raksasa dalam menentang eksploitasi kura-kura sebagai komoditas.
Kalimat posterKalimat poster biasanya juga menjadi incaran fotografer. Pilihlah kalimat yang cerdas namun tetap mencerminkan akhlak seorang mahasiswa. Unik dan kreatif adalah kuncinya. Misal : IMF = International Monster Fund.
UniformKeseragaman pakaian peserta aksi juga dapat menarik perhatian. Pakaian putih-putih, hitam-hitam atau mengenakan pakaian seperti orang utan untuk aksi mendukung keberlangsungan orang utan.
PropagandaPropaganda dibuat untuk mencerdaskan masyarakat di sekitar aksi agar mereka mendukung aksi. Jika aksi dipusat keramaian, maka selebaran propaganda dapat menjadi bacaan yang mengusik perhatian.
Pers releaseSelain data 5W+1H, pers release juga disusun dengan kalimat baik dan sudah sesuai dengan bahasa koran, sehingga redaktur tidak banyak mengedit. Adanya tambahan data dan angka dapat menambah bobot release.
Yel/laguCiptakanlah yel-yel yang khas dan mudah diingat. Lagu bisa diperoleh dengan mengubah lirik dari lagu yang populis. Yel dan Lagu akan memelihara stamina massa.
SymbolizedSimbolisasi perlu dilakukan untuk mencuri perhatian media jika massa aksi tidak terlalu banyak. Misalnya : aksi membawa tikus ke kantor DPRD untuk menyindir anggota dewan yang tak ubahnya seperti tikus-tikus pengerat.
Aliansi taktisUntuk memperkuat posisi tawar, aliansi kadang diperlukan. Aliansi didasarkan pada pertimbangan kesamaan ideologi, atau kesamaan isu , atau kesamaan metode. Jika aliansi ini adalah dari universitas, maka bendera masing-masing universitas wajib untuk ditonjolkan.
Menghadapi wartawan. Jika jurnalis TV mewawancarai peserta aksi, sebaiknya peserta tersebut mengarahkannya kepada tim humas atau korlapnya agar jurnalis itu dpat mewawancarai person yang lebih valid dalam memberikan keterangan. Ketika di wawancara, demonstran yang efektif merancang pesannya supaya bisa disampaikan secara utuh dalam tempo 10 hingga 15 detik. Setelah pesan disampaikan secara singkat, padat, dan utuh - baru kemudian dilakukan elaborasi. Ini menjaga agar pesan utama secara utuh tetap bisa tersiar walaupun mungkin elaborasinya terpotong. Hal ini disebabkan karena spot berita TV sangat singkat, berbeda dengan media cetak yang dapat memuat banyak.Berhadapan dengan wartawan, jauhilah sikap arogan, tampakkanlah sikap ramah dan bersahabat. Sikap arogan membuat wartawan menjaga jarak, bahkan pada titik puncaknya wadah asosiasi mereka akan memboikot setiap kegiatan aksi kita.Beberapa pertanyaan dari wartawan yang bisa diantisipasi oleh setiap peserta aksi adalah:- Mengapa anda berada disini?- Apa yang ingin anda capai?- Apakah demonstrasi ini sungguh-sungguh merupakan solusi?- Apa yang bisa dilakukan oleh khalayak untuk masalah yang anda perjuangkan?
So, Selamat Berjuang !Sampai Jumpa di jalanan !

Wednesday, January 20, 2010

BEDAH BIOGRAFI KEPEMIMPINAN HATTA

“Bung Hatta sebagai Model Kepemimpinan”
Oleh :
TEDI CAHYONO

Sosok Mohammad Hatta (Bung Hatta) tidak pernah hilang tertelan masa. Sudah banyak buku yang mengulas pemikiran, jasa, dan biografi tokoh proklamator ini. Jasa dan curahan pemikiran Bung Hatta terhadap Tanah Air selalu dikenang dan menjadi teladan bagi pemimpin di negeri ini.
Lagi-lagi terngiang kata bersayap pujangga Friedrich von Schiller yang sering dikutip Bung Hatta, "Zaman besar telah dilahirkan abad, tetapi zaman besar itu hanya menemukan manusia kerdil." Sekurang-kurangnya suatu zaman pancaroba dan zaman peralihan menerpa bangsa Indonesia. Seorang pemimpin diperlukan. Pemimpin macam apa?
Pertanyaan pemimpin macam apa semakin mendesak, ketika orang melihat ke kiri dan ke kanan dan tidak pula merasa menemukan sosok yang sepadan dengan tantangan zaman. Suatu hasil polling menunjukkan dari kalangan muda pun, sosok-sosok pemimpin belum tampil secara meyakinkan.
Demikianlah, pemimpin disorot sebagai persoalan besar yang dihadapi bangsa. Suatu koinsidensi yang mencerahkan pun tiba. Pada tanggal 12 Agustus 2002 genaplah 100 tahun usia Mohammad Hatta. Peringatan seabad pejuang, pendiri bangsa dan koproklamator bergaung luas, dan marilah kita cerna agar bergaung mendalam pula.
Zaman besar di masa lampau, yakni zaman kebangkitan, pergerakan dan perjuangan kemerdekaan telah berhasil menemukan orang-orang besar pula. Mereka itulah para penggerak dan pendiri bangsa. Beberapa mencuat dan menonjol di atas rekan-rekan sezamannya. Seorang di antaranya adalah Bung Hatta.
Sungguh suatu anugerah zaman bahwa seabad peringatannya jatuh ketika kita, bangsa Indonesia, sedang membuka mata, telinga, pikiran dan hati untuk belajar dari pengalaman sejarah bangsa sendiri serta pengalaman sejarah bangsa-bangsa lain.
Setiap pemimpin bangsa meninggalkan sosok, kepribadian, karakter, visi, komitmen, serta pergulatan dan suri tauladan yang dapat diambil hikmahnya. Untuk menghadapi pancarobanya perubahan zaman seperti kita jalani sekarang ini, sosok Bung Hatta benar-benar suatu mercusuar.
Ambillah tugas pemimpin yang paling mendesak dewasa ini, ialah menyelenggarakan pemerintah dan pemerintahan yang bersih, yang tidak menyalahgunakan kekuasaan, wewenang, kesempatan, dan koneksi. Dan dengan demikian juga suatu pemerintah yang mau dan mampu menghentikan proses degradasi dan demoralisasi bangsa dalam urutan yang paling sentral dan menentukan, yakni penyelenggaraan kekuasaan.
Bung Hatta berpuluh tahun berada di sentral kekuasaan. Ia mempunyai modal pengabdian yang sekiranya ia kemudian akan menagihnya untuk kepentingan pribadi, masyarakat dan lingkungan akan menenggangnya. Ia tidak memanfaatkannya. Ia tidak memanfaatkan sampai akhir hayatnya.
Pemimpin-pemimpin lain jatuh bangun, terutama dalam ranah penggunaan kekuasaan dan kesempatan. Bung Hatta uncorruptable, tak terkorupsikan ketika memegang kekuasaan. Tidak pula memanfaatkan modal pengabdian maupun koneksi, ketika dengan sukarela meninggalkan kekuasaan.
Patut dipelajari, mengapa ia sanggup tak terkorupsikan sementara yang lain-lain, termasuk Bung Karno jatuh bangun. Ada elemen keagamaan pada sosok pribadinya yang dipahami serta dihayati secara serius sekaligus dengan pandangan yang tercerahkan oleh pendalamannya terhadap filsafat Barat dan Marxis. Begitu di antaranya, penjelasan Malvin Rose, penulis biografi politik Mohammad Hatta.
Faham dan perjuangannya menegakkan kedaulatan rakyat dipengaruhi latar belakang Minangkabau yang egaliter serta lebih bebas dari struktur dan kultur feodal daripada di Jawa. Sesuai pula dengan kepribadiannya yang introvert dan kaku, jika ia secara konsisten dan secara konsekuen menempuh jalan lurus.
Namun, ada hal lain yang terutama untuk zaman sekarang, perlu ditegaskan. Bung Hatta berhasil menumbuhkan pada pribadinya, pilihan dan komitmen asketisisme. Yakni asketisisme seorang pemimpin. Lagi-lagi kata Malvin Rose, ia mendisiplinkan diri sendiri untuk menekan nafsu dan emosi alamiah dengan cara memusatkan seluruh jati dirinya pada pencapaian kemerdekaan Indonesia.
Ia barulah berkeluarga setelah Indonesia Merdeka. Ia melanjutkan asketisismenya dalam menyelenggarakan kekuasaan dan ketika berada di tengah kekuasaan. Kecuali pemahaman, asketisisme seperti dihayati oleh Bung Hatta adalah soal pilihan. Memang pilihan itu menjadi bagian bahkan faktor yang menentukan apakah kepemimpinannya berhasil atau tidak.
Mengenai pilihan ini, sebaiknya ditegaskan dan dipahami. Semua pekerjaan, profesi dan jabatan kecuali pertimbangan dan dimensi pribadi juga mempunyai dimensi kemasyarakatan. Tetapi pastilah berbeda pertimbangan, dimensi serta implikasi dan konsekuensinya, apakah seseorang memilih sebagai ilmuwan, sebagai pebisnis, atau sebagai politikus.
Di masa lampau, ketika ekonomi pasar dan konsumerisme global dan lokal belum semerajalela sekarang, pilihan-pilihan lebih sederhana. Tetapi betapapun zaman berubah, terutama dengan merajalelanya konsumerisme dan materialisme kapitalis, toh pilihan-pilihan itu tetap memiliki konsekuensi dan implikasi masing-masing. Termasuk tentu saja anugerah, imbalan serta pengakuannya.
Kalau Hatta memilih sebagai pedagang, ia pun akan berhasil amat jauh. Tetapi dengan sadar, sejak muda, ia memilih bidang lain. Bidang pengabdian politik untuk memerdekakan bangsa dan negaranya, untuk mendidik dan mencerahkan rakyat, untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dan keadilan sosial.
Memang lebih berat pilihan menempuh jalur pengabdian politik untuk zaman sekarang. Tetapi, pilihan toh sukarela. Bisa saja, jalur tidak selalu merupakan pilihan yang dipilih secara sadar sejak semula. Apalagi dalam masa peralihan yang berpancaroba, jalur bisa karena untung-untungan.
Akan tetapi, begitu atau pilihan sadar atau koinsidensi membawanya, harus dipahami dan disadari pilihan jalur politik, kepemimpinan politik pada semua jenjangnya, apalagi pada jenjang-jenjang tinggi, membawa konsekuensi dan implikasinya.
Tentu saja, kebanggaan, imbalan, pengakuan bahkan fulfillment, pemunculan diri dalam pekerjaannya, tetap ada. Berbeda, tetapi ada dan semuanya membanggakan.
Pada Hatta dan pemimpin sezamannya, pilihan dibuat sejak muda. Otaknya cerdas. Ketekunannya luar biasa. Mengapa rencana studinya di Belanda yang direncanakan lima tahun molor menjadi 11 tahun? Ia sibuk memimpin Perhimpunan Indonesia, organisasi orang-orang muda Indonesia yang belajar di Belanda. Ia menghadiri konferensi internasional di mana-mana di Eropa, memperkenalkan cita-cita, perjuangan dan tujuan Indonesia Merdeka.
Ia sekaligus lewat tulisan dan diskusi, merumuskan tujuan Indonesia Merdeka, falsafah Indonesia Merdeka. Ia membina lewat Perhimpunan Indonesia dan forum lain, terwujudnya Indonesia Baru, yang merdeka, berkedaulatan rakyat, adil makmur, maju, terbuka, hadir secara independen dan aktif dalam pergaulan bangsa-bangsa.
Pilihan sejak muda dan karena itu juga konsekuensinya, yakni persiapan sejak muda, itulah pelajaran lain dari sosok Hatta bagi generasi muda Indonesia. Tidaklah berarti, tidak terbuka pilihan yang menyusul kemudian, tetapi pilihan kemudian pun, harus dipahami konsekuensi, implikasi serta tuntutannya.
Bung Karno amat kuat karismanya apalagi untuk rakyat banyak. Bung Hatta bukannya sosok tanpa karisma. Karismanya terhadap rakyat banyak, tidak sekuat Bung Karno, tetapi terhadap setiap lingkungannya otoritas dan kredibilitas Hatta terasa. Karisma itu terpancar dari sosok pribadinya yang berintegritas tinggi serta kompeten.
Bung Hatta percaya kepada rakyat. Karena itu, ia konsisten dan konsekuen menegakkan kedaulatan rakyat. Ia pun sadar, rakyat perlu dididik. Dididik untuk membaca dan menulis agar terbuka pintu untuk menimba pengetahuan dan pengalaman. Seperti pemimpin pergerakan lainnya, ia mengajar di sekolah, terutama ia juga mengajar lewat media seperti Daulat Rakyat serta pendidikan kader.
Meskipun caranya tidak sevokal Bung Karno, Hatta pun mementingkan pendidikan karakter rakyat. Mandiri, tahu hak dan kewajiban, mau mengambil tanggung jawab.
Dipengaruhi serta dicerahkan lewat pendidikan dan pergaulannya selama 11 tahun studi dan bergerak di Eropa, Bung Hatta juga sampai pada pemahaman, Indonesia Merdeka bukan saja dalam makna politik, tetapi juga ekonomi, sosial dan budaya. Bung Hatta berulang kali memperingatkan kemungkinan jebakan feodalisme, maka ia pun terus-menerus memperjuangkan demokrasi yang bertumpu pada kedaulatan rakyat.
Sejarah, katanya, tidak kenal andaikata. Namun, sebagai bahan pelajaran dan pengalaman, bukankah Indonesia akan lain fase perkembangannya, andaikata Bung Karno sebagai Presiden dan pemimpin bangsa serta Hatta sebagai juga pemimpin dengan menyelenggarakan pemerintahan.
Yang kemudian tidak tersentuh, bahkan tumbuh sebagai jebakan baru adalah proses emansipatoris bangsa dalam bidang sosial dan budaya, terutama dalam kaitannya dengan bangkitnya lagi feodalisme, baik kultur maupun strukturnya.
Dalam alam dan suasana itu, baik ekonomi etatisme maupun ekonomi pasar tidak sanggup menghasilkan kemakmuran yang merata bagi rakyat. Yang dihasilkan baik dalam ekonomi etatisme maupun dalam ekonomi pasar adalah kemakmuran untuk orang seorang yang berada dalam kekuasaan dan lingkungannya serta kesenjangan besar bagi rakyat banyak.
Bung Hatta terpanggil untuk pembangunan ekonomi yang berkeadilan sosial yang memperbaiki dan meratakan kemakmuran kepada rakyat, memilih jalan koperasi. Tetapi koperasi yang dipilihnya adalah model gerakan koperasi di negara-negara Skandinavia.
Negara-negara itu bukan berekonomi negara seperti negara-negara komunis. Negara-negara itu, seperti berkembang lebih nyata di kemudian hari, mengacu kepada kerangka referensi ekonomi masyarakat, sebutlah ekonomi pasar sosial.
Lagi pula, betapapun dimensi politik dalam arti mandat keadilan sosial adalah kental pada ekonomi koperasi, tetapi gerakan itu adalah gerakan dan disiplin sosial ekonomi. Inilah yang juga disalahartikan ketika koperasi diterapkan di negeri kita. Akhirnya sampai sekarang ini, koperasi lebih merupakan lembaga dan gerakan yang kosong dan tidak memadai hasilnya. Bahkan juga terkena imbas salah guna kekuasaan dan kesempatan. Koperasi lebih menyuburkan pengurus daripada anggotanya.
Mengapa sosok kepemimpinan Hatta sangatlah relevan dan aktual untuk menumbuhkan kepemimpinan serta menjawab tantangan masa kini? Karena amatlah jelas, contoh, teladan pimpinan yang kecuali cerdas, cakap, efektif juga bersosok asketis amatlah diperlukan kini dan mendatang. Adalah teladan yang ibaratnya dapat menggerakkan gunung dewasa ini.
Dimulai dari pimpinan yang menyinarkan teladan. Segera diikuti oleh suatu kecerdasan dan kecakapan, bahwa untuk memimpin atau menyelenggarakan pemerintah di Indonesia yang berpenduduk besar, berkepulauan majemuk serta mengalami krisis dan pancaroba sekarang ini, diperlukan tim. Tim pemerintah dan pemerintahan.
Orang-orang bersosok, berkarakter, memiliki kecerdasan dan kecakapan dalam bidangnya yang bekerja sama, menggerakkan roda pemerintahan sehingga tidak sekadar omong dan rapat, tetapi get things done terlaksana.
Sosok Hatta yang kecuali cerdas dan cakap, juga efektif karena ketekunannya, karena mau mengontrol dan mau check and recheck. Menggerakkan bahkan turun ke lapangan secara langsung dan tidak langsung.
Karena kehabisan akal, dewasa ini, amat sering kita dengar pernyataan dari mana mulai dan bagaimana? Mengacu kepada Hatta, amatlah jelas jawabannya, mulai dari diri sendiri, bahkan padanya mulai dari diri sendiri secara konsisten dan konsekuen melawan arus. Mulai dari lingkungan masing-masing. Tidak saling menunggu, justru saling mendahului.
Di mana rakyat berada dan apa peranannya? Sekali lagi, terutama mengingat kondisi kita dewasa ini, pemimpin dan pemerintahlah yang harus memulai dengan memberi contoh yang efektif. Tetapi, sesuai dengan prinsip kedaulatan rakyat serta sesuai dengan tanggung jawab yang juga bergeser kepada publik, masyarakat pun terpanggil mengambil tanggung jawab lebih besar dan lebih efektif.
Bukan sekadar melek huruf yang merupakan pendidikan rakyat, kata Bung Hatta, tetapi juga bahkan terutama karakternya. Karakter rakyat. Apakah untuk zaman kita, pendidikan karakter rakyat sama atau kental konotasinya dengan pendidikan masyarakat kewargaan, masyarakat madani, civil society?
Kertas dan karya pada founding fathers negara lain seperti Amerika Serikat, dikumpulkan dan diterbitkan. Bukan untuk disimpan dalam museum, tetapi untuk bekal pelajaran sejarah dan untuk terus dikembangkan, dikaji ulang serta diperkaya untuk menjawab perkembangan dan tantangan zaman.
Seratus tahun Bung Hatta tahun ini, Seabad Bung Karno tahun lalu, mengapa tidak menjadi momentum untuk pekerjaan besar dan pekerjaan bersejarah itu.
http://www.mail-archive.com/rantau-net@rantaunet.com/msg12194.html

Saturday, December 5, 2009

tawuran antar fakultas UNIB




Tawuran, 18 Mahasiswa dan 1 Alumni Unib Diamankan
Jumat, 04 Desember 2009 10:32:56 Kirim-kirim Print version

Akibat kejadian ini, kaca jendela gedung GB III pecah dan kaca mobil Kijang Grand warna merah milik dosen Unib FKIP Abas pecah. Selain itu mahasiswa Pertanian, Aan (19) terpaksa dilarikan ke RS Bhayangkara Jitra karena tak sadarkan diri akibat kena lemparan batu.

Sedangkan dosen FKIP Bayu dikeroyok oleh mahasiwa Pertanian. Namun dia tak dilarikan ke rumah sakit.
Sementara itu, bentrokan itu berawal dari pertandingan sepakbola Dekan Pertanian Cup antara jurusan Argoteknologi Pertanian melawan Penjaskes FKIP pagi harinya. Pertandingan itu sendiri berlangsung ricuh.

Pemain kedua kesebelasan terlibat adu jotos.
Karena kericuhan itu, panitia mendiskualifikasi tim Penjaskes dan Argoteknologi. Mahasiswa Penjaskes tak menerima keputusan itu. Apalagi ketika pertandingan dihentikan, tim Penjaskes unggul.

Tak terima dengan keputusan panitia itu, mahasiwa Penjaskes dengan membawa kayu dan batu menyerang mahasiwa Agroteknologi.Mendapat serangan itu, mahasiswa Agroteknologi memberitahu anak-anak Pertanian lainnya. Dengan jumlah yang lebih besar, anak-anak Pertanian membalas serangan anak-anak Penjaskes.

Tak hanya anak-anak Penjaskes yang tengah berkumpul di pelataran parkir Perpustakaan Unib menjadi sasaran kemarahan mereka, bahkan dosen FKIP pun dikeroyok. Hal ini membuat suasana saat itu mencekam.

Tapi untunglah mengetahui ada keributan, pihak Unib langsung berkoordinasi dengan pihak Polsek Muara Bangkahulu dan Polres Bengkulu. Setelah pihak kepolisian di bawah komando Kapolres Bengkulu AKBP Agung Setya Imam Effendi SH SIK MSi datang, keributan berhasil diantisipasi.

Di sisi lain, terkait tawuran itu, polisi mengamankan 18 mahasiwa dan 1 alumni.Sejauh ini kasus tersebut tengah dalam penyelidikan.18 mahasiswa dan 1 alumni telah diamankan. Mereka akan dilepas setelah dimintai keterangan, ungkap Kapolres Bengkulu AKBP Agung Setya Imam Effendi SH SIK MSi yang langsung turun ke TKP

Damai

Sementara itu, paca kejadian, pihak FKIP dan Pertanian sepakat untuk damai. Pembantu Rektor (PR) IV Unib Hutapia SE ME menjadi mediator perdamaian antara kedua belah pihak.

Dalam pertemuan yang digelar di Rektorat Unib itu, perwakilan mahasiwa Fakultas Pertanian terdiri dari Nanang Utami, Thomas Restu Utami, Dwi Yudianto, Putra Karyadi, Benny Pratama dan Bastian Hardibawa serta perwakilan mahasiswa Penjaskes FKIP Nicho Anggriawan, AL Fajar, Alhadi, Wiwin Hartono, KG Ray Juniansyah dan Rinto Harahap disaksikan Pembantu Dekan III FKIP Drs Syafrizal S MA dan Pembantu Dekan III Pertanian Ir Edi Soetrisno MSc serta saksi dari pihak kepolisian Ipda Arry P SH menandatangani surat perdamaian. Isinya?

Ada 4 poin isi perjanjian itu. Yaitu menyatakan penyesalan dan meminta maaf kepada pihak Unib secara lisan dan tertulis yang disaksikan oleh PR III dan Pembantu Dekan III, mewakili pihak bertikai untuk segera menyelesaikan dan atau tidak melanjutkan kesalahpahaman yang telah terjadi, mewakili pihak bertikai tak akan mengulang peristiwa serupa apabila kejadian serupa terulang siap menanggung resiko sesuai SK Rektor Nomor:2844/J30/HK/2008 tentang etika dan disiplin mahasiswa unib serta bersedia diproses sesuai hukum berlaku.

article of tedi

READING’S ASSIGNMENT

Created by:


TEDI CAHYONO

A1B00901

ENGLISH DEPARTEMENT STUDENT ASSOSIATION
EDUCATION FACULTY
UNIVERSITY OF BENGKULU
2009



1. Read the artickle and answer the question!
Komodo Island
KOMODO is the name of a prehistoric island, its village, primitive tribe, and the name of its dragon, the giant lizard. The original tribe, used to a hard life among the wild dragons, are believed to be very strong. The last man died recently, estimated to be over 105 years old. The new generations have large ears, inherited from the original KOMODO tribe. For those people exploring East Nusa Tenggara, the island of Komodo and its carnivorous residents is a definite ‘must visit’ place.
Komodo Island also boasts a beautiful panorama of two brownish hills, Poreng and Sabieta, with expanses of grassland and rows of palmyra trees. Wild buffaloes frequently graze there, and tourists who are lucky can see blackish adult komodos searching for their prey.
Resume: Pulau Komodo terletak di Nusa Tenggara Timur (NTT), dan komodo hanya terdapat disana. Komodo adalah hewan karnivora yang bias hidup selama 105 tahun, dan pulau komodo yang dicalonkan menjadi keajaiban dunia ini sangatlah indah.
Questions
A. Answer the question belongs the text!
1.


2. Read the artickle and answer the question!
Barito River
Barito is a 890 km long river and about 1 km wide,it is one of rivers that located in South of Kalimantan ( between Banjarmasin and Kalimantan).
There are pasar terapung or floating market in the Barito river that can be used as tourism place. The floating market is a busy and colorfull collection of small boats and canoo's. The bigger ships bring in fruit and vegetables, which are sold at low prices. The people on the small ships are usually women in colorfull cloth.

They buy their goods from the big boats and transport it to the customers at the shore.
Resume: Sungai Barito memiliki panjang 890 km dan luas 1 km, sungai yang berada diantara Banjarmasin dan Kalimantan ini dijadikan sebagai pasar tarapung.





3. Read the artickle and answer the question!
Kiskendo Cave
This cave, which was named Guo Kiskendo by the local people, was found firstly by a hermit named Ki Gondorio in 1700‘s. The hermit was also the first cave keeper. According to the local story, one night the hermit had a dream of entering a cave that looked like a palace. In the dream, Ki Gondorio got a guidance to name the 15 rooms in the cave. After he woke up, Ki Gondorio followed the guidance that he saw from the dream.
Kiskendo cave is located at the area of Menoreh mountain which is part of the administrative territory of Dusun Sukamaya, Jatimulyo Village, Girimulyo Sub-district, Kulon Progo District, D.I Yogyakarta Province. This cave is at the south western part Wates, the capital city of Kulon Progo District, and is about 800 meters height above the sea level.
Resume: Gua yang berolakasi di area gunung manoreh Dusun Sukamaya, Desa Jatimulyo,Yogyakarta ini mempunyai ketinggian mencapai 800 m diatas laut. Gua ini ditemukan oleh Ki Gondrio (1700), Ki Gondrio sekaligus menjadi kuncen gunung ini.



4. Read the artickle and answer the question!
Puncak Jayawijaya (Carstensz Pyramide)
Jayawijaya mountain is known as one of the seven highest peaks of the world (seven summit). Thus, the peak of the climb at 4884 meters dpl is the goal of pure climber, let alone to climb Puncak Jaya is the conquest of the mountain, the enclosed snow. Various obstacles that are in the ascent, as the sheer natural condition, temperature is very cold, blustery wind and rain, and lack of oxygen in the altitude is a challenge that must be passed by the climber.
Given the weight of climbing terrain, a complex licensing process, and guarantee security during ascent, climber should utilize the services of experienced travel agents. Various travel agent who has an international reputation has provided two options climbing routes, the classic route through the Village Ilaga, or both channels with a more comfortable ride to the helicopter base camp Hill Lake (Lake Valley).
Resume: Gunung Jayawijaya adalah salah satu dari 7 gunung yang tertinggi didunia, gunung ini masih sangat alami dan udara disana sangat dingin.



5. Read the artickle and answer the question!
Tempe Lake
Tempe Lake is a tourism destination in South Sulawesi province that are frequently visited by tourists either domestic or foreign. The lake, which is 13,000 hectare in width, seems like a giant washbasin when it is viewed from above. Subsistence for people living around, it is not only used by the inhabitants of Wajo district, but also other people in the districts of Soppeng and Sidrap. Along the Lakeside, you can observe the fishermen `s floating houses which were built in Bugis Nuance, standing in a row to directly face the lake.
Tempe Lake is the biggest Fishery Wetland area in the world. It is assumed that the lake is located on the meeting point of two continents. Therefore, Wetland many fish species can be found there than other places in Indonesia.

Tempe Lake lies 7 km away from Sengkang city, the capital of Wajo district. To reach the destination, you may take any public transportation such as Pete-pete (Minibus) from Sengkang to the city continued to Walennae River from the Lake Tempe Walennae River in 30 minutes by using Katinting (motor boat).






6. Read the artickle and answer the question!

Lake Toba
Lake Toba is the most famous lake in Indonesia. It is 100 km long and 30 km wide thus many people agree that Lake Toba is the biggest lake in the world. An island in the middle of the lake is Samosir Island at an altitude of 1.000 meters. Lake Toba has a very enchanted scenery for being surrounded by green hills. It offers beautifully magnificent view, fresh air, and tranquillity. You may either swim on the lake or rent a boat to hang around the lake. When the sun is going to set, you will experience a tranquil atmosphere while enjoying the sunset.
Lake Toba has cosmologic and magical values since surrounding people believe the existence of Namborru – seven fairies regarded as the ancestors of Batak tribe. There is an annual event namely Pesta Rakyat Danau Toba to express admiration for the local inhabitants‘ ancestors. In Samosir Island, there are two other lakes namely Lake Sidihoni and Lake Aek Natonang. Likewise, there are some other tourism destinations such as Raja Sidabutar‘s Graveyard and traditional houses of Batak Toba Samosir tribe.




8. Read the artickle and answer the question!

Penyengat Island
During the golden era of Riau-Lingga Sultanate, Penyengat Island held significant roles in governmental and educational sectors. The island was likewise the heart of Islamic teaching and Malay cultural civilization in the past. For that reason, the provincial government of Riau Islands fixed the island as the highly recommended historical tourism destination. The remaining traces of Riau-Lingga Sultanate can still be found in the island, even though some of them are in critically physical condition.
Once upon a time, there were some fishermen and pirates anchored off the coast of the island. They came to the island for pure water that was hard to find in other places except in Penyengat Island. Feeling of being disturbed by those people, a group of bee flied over them to take revenge on. Those people got stung by the bee, so the island was named “Penyengat” that literally means “stinger.”

Penyengat Island is part of Riau Islands Province that includes administratively into Tanjungpinang Sub-district. To reach Penyengat Island, you can take water transportation called pompong from Sri Bintan Pura Port in Tanjungpinang City.



9. Read the artickle and answer the question!

Sepeda Ontel
The name of traditional bike of Indonesia people since a long time ago is "Sepeda Ontel". Hiring bicycles is does not cause pollution, cheap and easy with many places offering them for daily and weekly rental.Even its not on market anymore and very rare to find some of Indonesian people still had this bike.
Such as in Jakarta, Surabaya, Solo and Yogyakarta.Bicycle rental can be found easily in the major tourists areas of Yogya such as Sosrowijayan, Pasar Kembang and Prawirotaman.
Resume: Sepeda ontel adalah sepeda tradisional di Indonesia. Selain tidak menyebabkan polusi, murah dan bisa digunakan disemua tempat, sepeda ini juga dijadikan objek rental oleh turis-turis.
10. Read the artickle and answer the question!

Ganjuran Church

We can call the complex of the church as an acculturative area since there are many things symbolize the blending of culture and religion. It gives the church a plus quality to be listed as a place to visit. In the complex, you will find the harmony of European architecture blended with the style of Hindu, Buddha, and Java.
Ganjuran Church is located in Kaligondang Sumbermulyo village Bambanglipuro Bantul Yogyakarta. The church is located on 20 kilometers to the south of the heart of the city of Yogyakarta. It is very accessible since you can reach the location by public or private transportation.

11. Read the artickle and answer the question!

Lampung & Krakatau volcanic Island

Ancient Chinese travel chronicles refer to a place in the most southerly part of Sumatra called “Lampung” or “place of southerly winds”. The province is gene-rally flat with the highest mountains of Gunung Pesagi, Tanggamas, Seminiung, Sekincau and Raya all being dormant volcanoes. Bandar Lampung, the Provincial capital, was formerly two separate towns, Tanjungkarang and the port of Teluk Betung, which after the infamous eruption of Krakatau were both completely covered in volcanic ash. In the course of development, however this town have merged together to become one single city.

12. Read the artickle and answer the question!
The Museum of Jakarta`s History

It was historically the building owned by VOC. This building was the first City Hall (Staadhuis) in Batavia; it was built by the Dutch in 1627 A.D. It was later renovated in 1970 when Indonesia became independent from the Dutch, and was established as the Museum of Jakarta‘s History in 1974.

Furthermore, the Museum also provides other historical things such as the coins used during the VOC period, various kinds of scales, the Jagur gun which is believed to have magical power, and the flag from the Fatahillah era. Visitors also have the chance to see the paintings of Raden Saleh, ancient maps, and a photograph of a VOC governor, J. P. Cohen.

13. Read the artickle and answer the question!

6The Manggar Segarasari Beach1

The Manggar Segarasari Beach is a worth visiting tourism destination in Balikpapan, East Kalimantan province, Indonesia. Clear water and white grain sand offer you a panoramic view for a tranquil holiday. The entire extent of the destination is around 13 km squares.

The Manggar Segarasari Beach lies amid the villageof Manggarand the villageof Teritip, East Balikpapan sub-district, Balikpapan City, East Kalimantan province. To reach the destination, you may use either motorcycle or car. The access is about 22 km from Balikpapan, and 9 km eastwards from Sepinggan Airport.

14. Read the artickle and answer the question!

Pangandaran Beach
Pangandaran beach is located Ciamis district in the state of West Java. In Pangandaran beach visitors will like fine white beaches, blue ocean and fine seafood. Twelve kilometers before arriving at Pangandaran visitors will see a huge rock on the beach, which is called Karang Nini. Another place there is a wildlife reserve in the vicinity where wild birds and other indigenous animals live about freely to be enjoyed by visitors.
In west of Pangandaran, driving 23 km on the way to Parigi, lays Batu Hiu, meaning Shark's Rock, a coastal rock that has the shark shape.
15. Read the artickle and answer the question!

Tangkuban Perahu Mountain
The Tangkuban Perahu Mountain is an active volcano. It was one of the mountains that was located in the West Javanese province, around 20 km in north the Bandung city.
The biggest crater that was in the peak of this mountain was named Queen's Crater.The nature panorama around this crater was very astonishing so as to attract the interest of the tourist in enjoying and we can hike or ride to the edge of the crater to view the hot water springs upclose, and buy eggs cooked on its hot surface. So the Tangkuban Perahu Mountain become the aim of the tour of many people.
Resume: Gunung Tangkuban Perahu adalah salah satu gunung berapi yangmasih aktif yang ada di Indonesia. Dongeng mengatakan bahwa gunung ini terbuat dari sebuah perahu.

16. Read the artickle and answer the question!

Cangkuang Temple

Cangkuang Temple was discovered firstly by Prof. Harsoyo and Drs. Uka Tjandrasasmita on December 19th , 1966. Both of them included into the researcher team of Leles history. It was discovered after receiving a report stated by Vordeman on the Notulen Bataviaasch Genootschap – published in 1893 A.D. – saying the existence of an ancient graveyard and the remain traces of Siwa Statue in Leles. Some other pre-historic age legacies were discovered on the next research. They were kendan stones (oxidant stone), pieces of earthenwares from the neolithic age and big stones from the megalithic age.

Having a look at the shape of the temple, some archaeologists assumed that the temple was erected in the eighth century. However, from the simple ornaments used, the making technique, and a chinese record, there is a prediction that the temple was built in the seventh century, on the same era as the building of Javanese temples.
17. Read the artickle and answer the question!

Wakatobi Dive Resort
Wakatobi dive resort is located in southeast Sulawesi on the shore of Kendari bay.Wakatobi island is a great place to go diving. The perfect spot for a relaxed holiday.
Wakatobi island is a beautiful tropical island in the remote and peaceful. Wakatobi Dive Resort offers what many consider to be the best reef diving in the world and its also introduced a new level of "Privilege Services" . .
Tourists who dive all over the world say the reefs at Wakatobi are among the world's most beautiful, diverse and pristine.
18. Read the artickle and answer the question!

Batu Gong Beach
Batu Gong Beach and Toli-Toli Hill
Batu Gong Beach and Toli-Toli Hill is located in south east Sulawesi. It is a beautiful beach and 20 km from Kendari to the north. It is a new recreational resort along a 3 km white-sand beach. At the edge of the beach are huge stones, which when hit sound like a gong, hence the name of this area. Gorgeous views the sea can be enjoyed from the top of nearby Toli-Toli hill resort.





19. Read the artickle and answer the question!

Marine Enchantment in Banda Sea

More than 350 marine species are available within the waters area. Thousand species of fish are available as well that is one of the attractions of the location. That is why, most people coming to the location bring mission, mostly, to fish. There are still numerous mysteries that are kept uncovered so far. Therefore, this location is the right place for you who are undertaking research about marine life in Indonesian Archipelago.

Banda Sea directly borders to some islands which are, Buru Island, Ambon Island, Ceram, Alu Island, Tanimbar Island, Barat Data Island, and Timor Island. Administratively, Banda Sea is included into the territorial area of Central Maluku District, Central Maluku Province.

20. Read the artickle and answer the question!

Moluccan King Parrot
The Amboina or Amboyna King (Alisterus amboinensis) is also known as Moluccan King Parrot, Ambon King Parrot or Amboina Green-Winged King Parrot. It is a parrot that is endemic to Peleng Island, Maluku. Found primarily in humid forests.
It has a red head and chest, outer wings dull green mantle, lesser wing coverts and tail-coverts dark purple-blue. The top of the tail is usually black with vivid blue highlights. Their underside is dark gray or black with pink markings on the margins and their feet are gray.Predation and loss of habitat have lowered the population of the Amboina King Parrot drastically, and they are now "near-threatened" in conservation status.
.
4Togian island

Togian islands is located in the Gorontalo, dives specificity is certainly the beauty and the diversity of the underwater sceneries their offer.
It is the only place in the world where barrier reefs, atolls, and fringing reefs are found together. Most of the islands is still covered by dense tropical forest, human settlements and tourism are still very limited.
The reefs and coastal areas provide habitat and breeding areas for hawksbill turtle, the green turtle and the dugong. Togian forests and skies are filled with exotic creatures such as the Togian Macaque, the babirusa, the Sulawesi Hornbill, and hanging parrots.

Tuesday, November 10, 2009

Makalah Agama Bani Ummayah


MAKALAH AGAMA


BANI UMMAYAH

TEDI CAHYONO
A1B009091

Pendidikan Bahasa Inggris

FKIP UNIB
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI i
KATA PENGANTAR iii
Sejarah Bani Ummayah 1
Daulah Bani Umayyah (Masa Kemajuan Islam) 1
Tokoh-Tokoh 2
Masa Kehancuran 2
Masa Keemasan 4
KESIMPULAN 13


KATA PENGANTAR
Piji syukur kita panjatkan kehadirat ALLAH yang telah melimpahkan rahmatnya sahingga makalah agama (bani ummayah) ini dapat tearselesaikan walaupun masih banyak terdapat kekurangan.

Shalawat beriring salam tak lupa kita curahkan pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa kita dari alam kebodohan menuju alam yang islami seperti saat ini.

Terimakasih tak lupa penulis ucapkan pada dosen pembimbing, bapak Lukman yang telah membimbing penulis dalam penyelesaian makalah ini.

Akhirnya, Harapan penulis semoga makalah ini dapat berguna bagi kita semua, referensi untuk melangkah dan memperdalam keagamaan kita.


Bengkulu, November 2009




Penulis
TEDI CAHYONO
(A1B009091



Sejarah Bani Ummayah

Sepeninggal Khalifah Ali ibn Abi Thalib¸sebagian masyarakat Islam di Arab, Irak, dan Iran , memilih dan mengang kat Hasan ibn Ali. Namun kemudian ia memberikan jabatan itu kepada Muawiyah ibn Sufyan setelah memangku jabatan selama lebih kurang tiga bulan. Serah terima jabatan itu berlangsung di kota Kufah, pada tahun 661 M. Peristiwa itu dikenal dalam sejarah Islam dengan istilah “Amul Jama’ah”.

Perpindahan kekuasaan kepada Muawiyah ibn Sufyan telah mengakhiri bentuk pemerintahan yang demokratis. Kekhalifahan menjadi semacam monarchi absolut, yaitu sistem kerajaan yang diwariskan secara turun-temurun. Kekhalifahan Bani Umayah bertahan lebih kurang 90 tahun, mulai dari tahun 661 sampai 750 M.

Bani Umayyah (bahasa Arab: بنو أمية, Banu Umayyah) atau Kekhalifahan Umayyah, adalah kekhalifahan Islam pertama setelah masa Khulafaur Rasyidin yang memerintah dari 661 sampai 750 di Jazirah Arab dan sekitarnya; serta dari 756 sampai 1031 di Kordoba, Spanyol. Nama dinasti ini diambil dari nama tokoh Umayyah bin 'Abd asy-Syams, kakek buyut dari khalifah pertama Bani Umayyah, yaitu Muawiyah I.
Bani Umayyah

Pendiri
Umayyah • Utsman bin Affan • Abu Sufyan
Khalifah di Damaskus
Muawiyah I • Yazid I • Muawiyah II • Marwan I • Abdul-Malik • Al-Walid I • Sulaiman • Umar II • Yazid II • Hisyam • Al-Walid II • Yazid III • Ibrahim • Marwan II
Amir di Kordoba
Abdurrahman I • Hisyam I • Al- Hakam I • Abdurrahman II • Abdullah • Abdurrahman III
Khalifah di Kordoba
Abdurrahman III • Al-Hakam II • Hisyam II • Muhammad II • Sulaiman • Abdurrahman IV • Abdurrahman V • Muhammad III • Hisyam III
Wilayah penting
Damaskus • Kordoba • Al-Andalus
pro-Umayyah
Tariq bin Ziyad • Hajjaj bin Yusuf • Al-Hurr
anti-Umayyah
Ali dan pendukungnya • al-Husain • Ibnu Zubair
Peristiwa penting
Shiffin • Karbala
Daulah Bani Umayyah (Masa Kemajuan Islam)
Masa ke-Khilafahan Bani Umayyah hanya berumur 90 tahun yaitu dimulai pada masa kekuasaan Muawiyah Ibn Abi Sufyan Radhiallahu ‘anhu, dimana pemerintahan yang bersifat Islamiyyah berubah menjadi monarchiheridetis (kerajaan turun temurun), yaitu setelah al-Hasan bin 'Ali Radhiallahu ‘anhuma menyerahkan jabatan kekhalifahan kepada Mu’awiyah Ibn Abu Sufyan Radhiallahu ‘anhu dalam rangka mendamaikan kaum muslimin yang pada saat itu sedang dilanda fitnah akibat terbunuhnya Utsman Ibn Affan Radhiallahu ‘anhu, perang jamal dan penghianatan dari orang-orang al-khawarij dan syi'ah.
Suksesi kepemimpinan secara turun temurun dimulai ketika Muawiyah Ibn Abu Sufyan Radhiallahu ‘anhu mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, Yazid Ibn Muawiyah Rahimahullah. Muawiyah Ibn Abu Sufyan Radhiallahu ‘anhu bermaksud mencontoh monarchi di Persia dan Bizantium. Dia memang tetap menggunakan istilah khalifah, namun dia memberikan interprestasi baru dari kata-kata itu untuk mengagungkan jabatan tersebut. Dia menyebutnya "khalifah Allah" dalam pengertian "penguasa" yang diangkat oleh Allah.

Tokoh-Tokoh
1.Muawiyah ibn Abi Sufyan (661-680 M),
2.Yazid Ibn Muawiyah,
3.Muawiyah Ibn Yazid,
4.Marwan Ibnul Hakam,
5.Abdullah Ibn Zubair Ibnul Awwam (Interegnum),
6.Abdul-Malik ibn Marwan (685- 705 M),
7.al-Walid ibn Abdul Malik (705-715 M),
8.Yazid ibn Abdul Malik
9.Umar ibn Abdul-Aziz (717- 720 M) dan
10.Hasyim ibn Abd al-Malik (724- 743 M).
11.Marwan II Al-Himar.Rahimahumullahu ajma,in

Masa Kehancuran
Secara Revolusioner, Daulah Abbasiyyah (750-1258) menggulingkan kekuasaan Daulah Umayyah, kejatuhan Daulah Umayyah disebabkan oleh beberapa factor, diantaranya meningkatnya kekecewaan kelompok Mawali terhadap Daulah Umayyah, pecahnya persatuan antarasuku bangsa Arab dan timbulnya kekecewaan masyarakat agamis dan keinginana mereka untuk memilki pemimpin karismatik. Sebagai kelompok penganut islam baru, mawali diperlakukan sebagai masyarakat kelas dua, sementara bangsa Arab menduduki kelas bangsawan. Golongan agamis merasa kecewa terhadap pemerintahan bani Umayyah karena corak pemerintahannya yang sekuler. Menurut mereka, Negara seharusnya dipimpin oleh penguasa yang memiliki integritas keagamaan dan politik. Adapun perpecahan antara suku bangsa Arab, setidak-tidaknya ditandai dengan timbulnya fanatisme kesukuan Arab utara, yakni kelompok Mudariyah dengan kesukuan Arab Selatan, yakni kelompok Himyariyah. Disamping itu, perlawanan dari kelompok syi`ah merupakan faktor yang sangat berperan dalam menjatuhkan Daulah Umayyah dan munculnya Daulah Abbasiyyah.
Namun secara garis besar menurut Badri Yatim faktor yang menyebabkan Daulah Bani Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran antara lain adalah :
1. Sistim pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah merupakan sesuatu yang baru bagi tradisi Arab yang lebih menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas. Ketidakjelasan sistem pergantian khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat dikalangan anggota keluarga istana
2. Latar belakang terbentuknya Daulah Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali. Sisa-sisa kaum Syi`ah (pengikut Ali) dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka seperti dimasa awal dan akhir maupun secara tersembunyi seperti dimasa pertengahan kekuasaan Bani Umayyah. Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah.
3. Pada masa kekuasaan bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabia Utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam, makin meruncing. Perselisihan ini mengakibatkan para penguasa Bani Umayyah mendapat kesulitan untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Disamping itu, sebagian besar golongan Mawali (non Arab), terutama di Irak dan wilayah bagian timur lainnya, merasa tidak puasa karena status Mawali itu menggambarkan suatu inferioritas, ditambah dengan keangkuhan bangsa Arab yang diperlihatkan pada masa Bani Umayyah
4. Lemahnya pemerintahan Daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah dilingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan, disamping itu, golongan agama yang kecewa karena perhatian penguasa terhadap perkembangan agama sangat kurang
5. Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan Daulah Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan al-Abbas Ibn Abd. Al-Muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan Syi`ah dan kaum Mawali yang merasa dikelas duakan oleh pemerintahan Bani Umayyah.
Dari uraian kemunduran dan kehancuran Daulah Bani Umayyah diatas, penulis melihat hal ini merupakan sunnatullah bahwa setiap kekuasaan dan peradaban akan mencapai puncak kemajuannya, dan akan menelusuri jurang kehancurannya dikemudian hari. وَتِلْكَ الأَيَّامُ نُدَاوِلهْاَ بَيْنَ النَّاسِ…

Masa Keemasan
PERKEMBANGAN DAN KEMAJUAN PERADABAN ISLAM PADA MASA BANI UMAYAH
Masa Berkuasanya Bani Umayyah di Andalus dan penerusnya
1.Masuknya Islam ke Spanyol (Andalus)
Spanyol diduduki umat Islam pada zaman khalifah Al-Walid Rahimahullah (705-715 M), salah seorang khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus, dimana Ummat Islam sebelumnya telah mengusasi Afrika Utara. Dalam proses penaklukan Spanyol ini terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa yaitu Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair Rahimahullahum ajma’in.
Spanyol diduduki umat Islam pada zaman Khalifah Al-Walid Rahimahullah (705-715 M), salah seorang khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Sebelum penaklukan Spanyol, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu propinsi dari dinasti Bani Umayah, Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di zaman Khalifah Abdul Malik Ibn Marwan Rahimahullah (685-705 M). Khalifah Abd al-Malik Rahimahullah mengangkat Hasan ibn Nu'man al-Ghassani Rahimahullah menjadi gubernur di daerah itu. Pada masa Khalifah al-Walid, Hasan ibn Nu'man Rahimahullah sudah digantikan oleh Musa ibn Nushair Rahimahullah. Di zaman al-Walid itu, Musa ibn Nushair Rahimahullah memperluas wilayah kekuasaannya dengan menduduki Aljazair dan Maroko.
Selain itu, ia juga menyempurnakan penaklukan ke daerah-daerah bekas kekuasaan bangsa Barbar di pegunungan-pegunungan, sehingga mereka menyatakan setia dan berjanji tidak akan membuat kekacauan-kekacauan seperti yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Penaklukan atas wilayah Afrika Utara itu dari pertama kali dikalahkan sampai menjadi salah satu propinsi dari Khilafah Bani Umayah memakan waktu selama 53 tahun, yaitu mulai tahun 30 H (masa pemerintahan Muawiyah ibn Abi Sufyan Radhiallahu ‘anhu) sampai tahun 83 H (masa al-Walid Rahimahullah). Sebelum dikalahkan dan kemudian dikuasai Islam, di kawasan ini terdapat kantung-kantung yang menjadi basis kekuasaan kerajaan Romawi, yaitu kerajaan Gothik. Kerajaan ini sering menghasut penduduk agar membuat kerusuhan dan menentang kekuasaan Islam. Setelah kawasan ini betul-betul dapat dikuasai, umat Islam mulai memusatkan perhatiannya untuk menaklukkan Spanyol. Dengan demikian, Afrika Utara menjadi batu loncatan bagi kaum muslimin dalam penaklukan wilayah Spanyol.
Dalam proses penaklukan spanyol terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa memimpin satuan-satuan pasukan ke sana. Mereka adalah Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair Rahimahullahum ajma’in. Tharif dapat disebut sebagai perintis dan penyelidik. Ia menyeberangi selat yang berada di antara Maroko dan benua Eropa itu dengan satu pasukan perang, lima ratus orang diantaranya adalah tentara berkuda, mereka menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian. Dalam penyerbuan itu Tharif tidak mendapat perlawanan yang berarti. Ia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak sedikit jumlahnya. Didorong oleh keberhasilan Tharif dan kemelut yang terjadi dalam tubuh kerajaan Visigothic yang berkuasa di Spanyol pada saat itu, serta dorongan yang besar untuk memperoleh harta rampasan perang, Musa ibn Nushair pada tahun 711 M mengirim pasukan ke spanyol sebanyak 7000 orang di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad Rahimahullah.
Thariq ibn Ziyad Rahimahullah lebih banyak dikenal sebagai penakluk Spanyol karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa ibn Nushair Rahimahullah dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim Khalifah al-Walid Rahimahullah. Pasukan itu kemudian menyeberangi Selat di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad Rahimahullah. Sebuah gunung tempat pertama kali Thariq dan pasukannya mendarat dan menyiapkan pasukannya, dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq). Dengan dikuasainya daerah ini, maka terbukalah pintu secara luas untuk memasuki Spanyol. Dalam pertempuran di suatu tempat yang bernama Bakkah, Raja Roderick dapat dikalahkan. Dari situ Thariq Rahimahullah dan pasukannya terus menaklukkan kota-kota penting, seperti Cordova, Granada dan Toledo (ibu kota kerajaan Gothik saat itu). Sebelum Thariq Rahimahullah berhasil menaklukkan kota Toledo, ia meminta tambahan pasukan kepada Musa ibn Nushair Rahimahullah di Afrika Utara. Musa mengirimkan tambahan pasukan sebanyak 5000 personel, sehingga jumlah pasukan Thariq seluruhnya 12.000 orang. Jumlah ini belum sebanding dengan pasukan Gothik yang jauh lebih besar, 100.000 orang.
Kemenangan pertama yang dicapai oleh Thariq ibn Ziyad Rahimahullah membuat jalan untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi. Untuk itu, Musa ibn Nushair Rahimahullah merasa perlu melibatkan diri dalam gelanggang pertempuran dengan maksud membantu perjuangan Thariq. Dengan suatu pasukan yang besar, ia berangkat menyeberangi selat itu, dan satu persatu kota yang dilewatinya dapat ditaklukkannya. Setelah Musa Rahimahullah berhasil menaklukkan Sidonia, Karmona, Seville, dan Merida serta mengalahkan penguasa kerajaan Gothic, Theodomir di Orihuela, ia bergabung dengan Thariq di Toledo. Selanjutnya, keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya, mulai dari Saragosa sampai Navarre.
Gelombang perluasan wilayah berikutnya muncul pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz Rahimahullah tahun 99 H/717 M. Kali ini sasaran ditujukan untuk menguasai daerah sekitar pegunungan Pyrenia dan Perancis Selatan. Pimpinan pasukan dipercayakan kepada Al-Samah Rahimahullah, tetapi usahanya itu gagal dan ia sendiri terbunuh pada tahun 102 H. Selanjutnya, pimpinan pasukan diserahkan kepada Abdurrahman ibn Abdullah al-Ghafiqi Rahimahullah. Dengan pasukannya, ia menyerang kota Bordreu, Poiter, dan dari sini ia mencoba menyerang kota Tours. Akan tetapi, diantara kota Poiter dan Tours itu ia ditahan oleh Charles Martel, sehingga penyerangan ke Perancis gagal dan tentara yang dipimpinnya mundur kembali ke Spanyol.
Sesudah itu, masih juga terdapat penyerangan-penyerangan, seperti ke Avirignon tahun 734 M, ke Lyon tahun 743 M, dan pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah, Majorca, Corsia, Sardinia, Creta, Rhodes, Cyprus dan sebagian dari Sicilia juga jatuh ke tangan Islam di zaman Bani Umayah. Gelombang kedua terbesar dari penyerbuan kaum Muslimin yang geraknya dimulai pada permulaan abad ke-8 M ini, telah menjangkau seluruh Spanyol dan melebar jauh menjangkau Perancis Tengah dan bagian-bagian penting dari Italia. Kemenangan-kemenangan yang dicapai umat Islam nampak begitu mudah. Hal itu tidak dapat dipisahkan dari adanya faktor eksternal dan internal yang menguntungkan.
Yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah suatu kondisi yang terdapat di dalam negeri Spanyol sendiri. Pada masa penaklukan Spanyol oleh orang-orang Islam, kondisi sosial, politik, dan ekonomi negeri ini berada dalam keadaan menyedihkan. Secara politik, wilayah Spanyol terkoyak-koyak dan terbagi-bagi ke dalam beberapa negeri kecil. Bersamaan dengan itu penguasa Gothic bersikap tidak toleran terhadap aliran agama yang dianut oleh penguasa, yaitu aliran Monofisit, apalagi terhadap penganut agama lain, Yahudi. Penganut agama Yahudi yang merupakan bagian terbesar dari penduduk Spanyol dipaksa dibaptis menurut agama Kristen. Yang tidak bersedia disiksa, dan dibunuh secara brutal.
Rakyat dibagi-bagi ke dalam sistem kelas, sehingga keadaannya diliputi oleh kemelaratan, ketertindasan, dan ketiadaan persamaan hak. Di dalam situasi seperti itu, kaum tertindas menanti kedatangan juru pembebas, dan juru pembebasnya mereka temukan dari orang Islam. Berkenaan dengan itu Amer Ali, seperti dikutip oleh Imamuddin mengatakan, ketika Afrika (Timur dan Barat) menikmati kenyamanan dalam segi material, kebersamaan, keadilan, dan kesejahteraan, tetangganya di jazirah Spanyol berada dalam keadaan menyedihkan di bawah kekuasaan tangan besi penguasa Visighotic. Di sisi lain, kerajaan berada dalam kemelut yang membawa akibat pada penderitaan masyarakat. Akibat perlakuan yang keji, koloni-koloni Yahudi yang penting menjadi tempat-tempat perlawanan dan pemberontakkan. Perpecahan dalam negeri Spanyol ini banyak membantu keberhasilan campur tangan Islam di tahun 711 M. Perpecahan itu amat banyak coraknya, dan sudah ada jauh sebelum kerajaan Gothic berdiri.
Perpecahan politik memperburuk keadaan ekonomi masyarakat. Ketika Islam masuk ke Spanyol, ekonomi masyarakat dalam keadaan lumpuh. Padahal, sewaktu Spanyol masih berada di bawah pemerintahan Romawi (Byzantine), berkat kesuburan tanahnya, pertanian maju pesat. Demikian juga pertambangan, industri dan perdagangan karena didukung oleh sarana transportasi yang baik. Akan tetapi, setelah Spanyol berada di bawah kekuasaan kerajaan Goth, perekonomian lumpuh dan kesejahteraan masyarakat menurun. Hektaran tanah dibiarkan terlantar tanpa digarap, beberapa pabrik ditutup, dan antara satu daerah dan daerah lain sulit dilalui akibat jalan-jalan tidak mendapat perawatan.
Buruknya kondisi sosial, ekonomi, dan keagamaan tersebut terutama disebabkan oleh keadaan politik yang kacau. Kondisi terburuk terjadi pada masa pemerintahan Raja Roderick, Raja Goth terakhir yang dikalahkan Islam. Awal kehancuran kerajaan Ghoth adalah ketika Raja Roderick memindahkan ibu kota negaranya dari Seville ke Toledo, sementara Witiza, yang saat itu menjadi penguasa atas wilayah Toledo, diberhentikan begitu saja. Keadaan ini memancing amarah dari Oppas dan Achila, kakak dan anak Witiza. Keduanya kemudian bangkit menghimpun kekuatan untuk menjatuhkan Roderick. Mereka pergi ke Afrika Utara dan bergabung dengan kaum muslimin. Sementara itu terjadi pula konflik antara Roderick dengan Ratu Julian, mantan penguasa wilayah Septah. Julian juga bergabung dengan kaum Muslimin di Afrika Utara dan mendukung usaha umat Islam untuk menguasai Spanyol, Julian bahkan memberikan pinjaman empat buah kapal yang dipakai oleh Tharif, Tariq dan Musa Rahimahumullah.
Hal menguntungkan tentara Islam lainnya adalah bahwa tentara Roderick yang terdiri dari para budak yang tertindas tidak lagi mempunyai semangat perang Selain itu, orang Yahudi yang selama ini tertekan juga mengadakan persekutuan dan memberikan bantuan bagi perjuangan kaum Muslimin.
Adapun yang dimaksud dengan faktor internal adalah suatu kondisi yang terdapat dalam tubuh penguasa, tokon-tokoh pejuang dan para prajurit Islam yang terlibat dalam penaklukan wilayah Spanyol pada khususnya. Para pemimpin adalah tokoh-tokoh yang kuat, tentaranya kompak, bersatu, dan penuh percaya diri. Mereka pun cakap, berani, dan tabah dalam menghadapi setiap persoalan. Yang tak kalah pentingnya adalah ajaran Islam yang ditunjukkan para tentara Islam, yaitu toleransi, persaudaraan, dan tolong menolong. Sikap toleransi agama dan persaudaraan yang terdapat dalam pribadi kaum muslimin itu menyebabkan penduduk Spanyol menyambut kehadiran Islam di sana.
2.Perkembangan Islam di Spanyol (Andalus)
Perkembangan Islam di Spanyol yang berlangsung lebih dari tujuh setengah abad, Islam memainkan peranan yang sangat besar. Sejarah panjang yang dilalui Umat Islam di Spanyol ini dapat dibagi menjadi enam periode, dimana tiap periode mempunyai corak pemerintahan dan dinamika masyarakat tersendiri. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah Spanyol hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir di sana, Islam memainkan peranan yang sangat besar. Masa itu berlangsung lebih dari tujuh setengah abad sejarah panjang yang dilalui umat Islam di Spanyol, itu dapat dibagi menjadi enam periode, yaitu :


1. Periode Pertama (711-755 M).
Pada periode ini Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayah yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna, gangguan-gangguan masih terjadi, baik datang dari dalam maupun dari luar. Gangguan dari dalam antara lain berupa perselisihan di antara elite penguasa, terutama akibat perbedaan etnis dan golongan. Disamping itu, terdapat perbedaan pandangan antara khalifah di Damaskus dan gubernur Afrika Utara yang berpusat di Kairwan. Masing-masing mengaku bahwa merekalah yang paling berhak menguasai daerah Spanyol ini.
Oleh karena itu, terjadi dua puluh kali pergantian wali (gubernur) Spanyol dalam jangka waktu yang amat singkat. Perbedaan pandangan politik itu menyebabkan seringnya terjadi perang saudara. Hal ini ada hubungannya dengan perbedaan etnis, terutama, antara Barbar asal Afrika Utara dan Arab. Di dalam etnis Arab sendiri terdapat dua golongan yang terus-menerus bersaing, yaitu suku Quraisy (Arab Utara) dan Arab Yamani (Arab Selatan). Perbedaan etnis ini seringkali menimbulkan konflik politik, terutama ketika tidak ada figur yang tangguh. Itulah sebabnya di Spanyol pada saat itu tidak ada gubernur yang mampu mempertahankan kekuasaannya untuk jangka waktu yang agak lama.
Gangguan dari luar datang dari sisa-sisa musuh Islam di Spanyol yang bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang memang tidak pernah mau tunduk kepada pemerintahan Islam. Gerakan ini terus memperkuat diri. Setelah berjuang lebih dari 500 tahun, akhirnya mereka mampu mengusir Islam dari bumi Spanyol. Karena seringnya terjadi konflik internal dan berperang menghadapi musuh dari luar, maka dalam periode ini Islam Spanyol belum memasuki kegiatan pembangunan di bidang peradaban dan kebudayaan. Periode ini berakhir dengan datangnya Abdurrahman al-Dakhil ke Spanyol pada tahun 138 H/755 M.
2. Periode Kedua (755-912 M)
Pada periode ini. Spanyol berada di bawah pemerintahan seorang yang bergelar amir (panglima atau gubernur) tetapi tidak tunduk kepada pusat pemerintahan Islam, yang ketika itu dipegang oleh khalifah Abbasiyah di Baghdad. Amir pertama adalah Abdurrahman I yang memasuki Spanyol tahun 138 H/755 M dan diberi gelar Al-Dakhil (Yang Masuk ke Spanyol). Dia adalah keturunan Bani Umayyah yang berhasil lolos dari kejaran Bani Abbas ketika yang terakhir ini berhasil menaklukkan Bani Umayyah di Damaskus. Selanjutnya, ia berhasil mendirikan dinasti Bani Umayyah di Spanyol. Penguasa-penguasa Spanyol pada periode ini adalah Abdurrahman al-Dakhil, Hisyam I, Hakam I, Abdurrahman al-Ausath, Muhammad ibn Abdurrahman, Munzir ibn Muhammad, dan Abdullah ibn Muhammad.
Pada periode ini, umat Islam Spanyol mulai memperoleh kemajuan-kemajuan, baik dalam bidang politik maupun dalam bidang peradaban. Abdurrahman al-Dakhil mendirikan masjid Cordova dan sekolah-sekolah di kota-kota besar Spanyol. Hisyam I dikenal berjasa dalam menegakkan hukum Islam, dan Hakam I dikenal sebagai pembaharu dalam bidang kemiliteran. Dialah yang memprakarsai tentara bayaran di Spanyol. Sedangkan Abdurrahman al-Ausath dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu. Pemikiran filsafat juga mulai masuk pada periode ini, terutama di zaman Abdurrahman al-Aushath. Ia mengundang para ahli dari dunia Islam lainnya untuk datang ke Spanyol sehingga kegiatan ilmu pengetahuan di Spanyol mulai semarak.
Sekalipun demikian, berbagai ancaman dan kerusuhan terjadi. Pada pertengahan abad ke-9 stabilitas negara terganggu dengan munculnya gerakan Kristen fanatik yang mencari kesyahidan. Namun, Gereja Kristen lainnya di seluruh Spanyol tidak menaruh simpati pada gerakan itu, karena pemerintah Islam mengembangkan kebebasan beragama. Penduduk Kristen diperbolehkan memiliki pengadilan sendiri berdasarkan hukum Kristen. Peribadatan tidak dihalangi. Lebih dari itu, mereka diizinkan mendirikan gereja baru, biara-biara disamping asrama rahib atau lainnya. Mereka juga tidak dihalangi bekerja sebagai pegawai pemerintahan atau menjadi karyawan pada instansi militer.
Gangguan politik yang paling serius pada periode ini datang dari umat Islam sendiri. Golongan pemberontak di Toledo pada tahun 852 M membentuk negara kota yang berlangsung selama 80 tahun. Disamping itu sejumlah orang yang tak puas membangkitkan revolusi. Yang terpenting diantaranya adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Hafshun dan anaknya yang berpusat di pegunungan dekat Malaga. Sementara itu, perselisihan antara orang-orang Barbar dan orang-orang Arab masih sering terjadi.
3. Periode Ketiga (912-1013 M)
Periode ini berlangsung mulai dari pemerintahan Abdurrahman III yang bergelar An-Nasir sampai munculnya "raja- raja kelompok" yang dikenal dengan sebutan Muluk al-Thawaij. Pada periode ini Spanyol diperintah oleh penguasa dengan gelar khalifah, penggunaan gelar khalifah tersebut bermula dari berita yang sampai kepada Abdurrahman III, bahwa Al-Muktadir, Khalifah daulat Bani Abbas di Baghdad meninggal dunia dibunuh oleh pengawalnya sendiri. Menurut penilaiannya, keadaan ini menunjukkan bahwa suasana pemerintahan Abbasiyah sedang berada dalam kemelut. Ia berpendapat bahwa saat ini merupakan saat yang paling tepat untuk memakai gelar khalifah yang telah hilang dari kekuasaan Bani Umayyah selama 150 tahun lebih. Karena itulah, gelar ini dipakai mulai tahun 929 M. Khalifah-khalifah besar yang memerintah pada periode ini ada tiga orang, yaitu Abdurrahman al-Nashir (912-961 M), Hakam II (961-976 M), dan Hisyam II (976-1009 M).
Pada periode ini umat Islam Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan menyaingi kejayaan daulat Abbasiyah di Baghdad. Abdurrahman al-Nashir mendirikan universitas Cordova. Perpustakaannya memiliki koleksi ratusan ribu buku. Hakam II juga seorang kolektor buku dan pendiri perpustakaan. Pada masa ini, masyarakat dapat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran. Pembangunan kota berlangsung cepat.
Awal dari kehancuran khilafah Bani Umayyah di Spanyol adalah ketika Hisyam naik tahta dalam usia sebelas tahun. Oleh karena itu kekuasaan aktual berada di tangan para pejabat. Pada tahun 981 M, Khalifah menunjuk Ibn Abi Amir sebagai pemegang kekuasaan secara mutlak. Dia seorang yang ambisius yang berhasil menancapkan kekuasaannya dan melebarkan wilayah kekuasaan Islam dengan menyingkirkan rekan-rekan dan saingan-saingannya. Atas keberhasilan-keberhasilannya, ia mendapat gelar al-Manshur Billah. Ia wafat pada tahun 1002 M dan digantikan oleh anaknya al-Muzaffar yang masih dapat mempertahankan keunggulan kerajaan. Akan tetapi, setelah wafat pada tahun 1008 M, ia digantikan oleh adiknya yang tidak memiliki kualitas bagi jabatan itu. Dalam beberapa tahun saja, negara yang tadinya makmur dilanda kekacauan dan akhirnya kehancuran total. Pada tahun 1009 M khalifah mengundurkan diri. Beberapa orang yang dicoba untuk menduduki jabatan itu tidak ada yang sanggup memperbaiki keadaan. Akhirnya pada tahun 1013 M, Dewan Menteri yang memerintah Cordova menghapuskan jabatan khalifah. Ketika itu, Spanyol sudah terpecah dalam banyak sekali negara kecil yang berpusat di kota-kota tertentu.
4. Periode Keempat (1013-1086 M)
Pada periode ini, Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh negara kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan atau Al-Mulukuth Thawaif, yang berpusat di suatu kota seperti Seville, Cordova, Toledo, dan sebagainya. Yang terbesar diantaranya adalah Abbadiyah di Seville. Pada periode ini umat Islam Spanyol kembali memasuki masa pertikaian intern. Ironisnya, kalau terjadi perang saudara, ada diantara pihak-pihak yang bertikai itu yang meminta bantuan kepada raja-raja Kristen. Melihat kelemahan dan kekacauan yang menimpa keadaan politik Islam itu, untuk pertama kalinya orang-orang Kristen pada periode ini mulai mengambil inisiatif penyerangan. Meskipun kehidupan politik tidak stabil, namun kehidupan intelektual terus berkembang pada periode ini. Istana-istana mendorong para sarjana dan sastrawan untuk mendapatkan perlindungan dari satu istana ke istana lain.

5. Periode Kelima (1086-1248 M)
Pada periode ini Spanyol Islam meskipun masih terpecah dalam beberapa negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang dominan, yaitu kekuasaan daulah Murabithun (860-1143 M) dan daulah Muwahhidun (1146-1235 M). Dinasti Murabithun pada mulanya adalah sebuah gerakan politik yang didirikan oleh Yusuf ibn Tasyfin di Afrika Utara. Pada tahun 1062 M ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakisy. Ia masuk ke Spanyol atas "undangan" penguasa-penguasa Islam di sana yang tengah memikul beban berat perjuangan mempertahankan negeri-negerinya dari serangan-serangan orang-orang Kristen. Ia dan tentaranya memasuki Spanyol pada tahun 1086 M dan berhasil mengalahkan pasukan Castilia.
Karena perpecahan di kalangan raja-raja muslim, Yusuf melangkah lebih jauh untuk menguasai Spanyol dan ia berhasil untuk itu. Akan tetapi, penguasa-penguasa sesudah ibn Tasyfin adalah raja-raja yang lemah. Pada tahun 1143 M, kekuasaan dinasti ini berakhir, baik di Afrika Utara maupun di Spanyol dan digantikan oleh daulah Muwahhidun. Pada masa daulah Murabithun, Saragossa jatuh ke tangan Kristen, tepatnya tahun 1118 M. Di Spanyol sendiri, sepeninggal dinasti ini, pada mulanya muncul kembali dinasti-dinasti kecil, tapi hanya berlangsung tiga tahun. Pada tahun 1146 M penguasa dinasti Muwahhidun yang berpusat di Afrika Utara merebut daerah ini. Muwahhidun didirikan oleh Muhammad ibn Tumart (w. 1128). Dinasti ini datang ke Spanyol di bawah pimpinan Abdul Mun'im. Antara tahun 1114 dan 1154 M, kota-kota muslim penting, Cordova, Almeria, dan Granada, jatuh ke bawah kekuasaannya.
Untuk jangka beberapa dekade, daulah ini mengalami banyak kemajuan. Kekuatan-kekuatan Kristen dapat dipukul mundur. Akan tetapi tidak lama setelah itu, Muwahhidun mengalami keambrukan. Pada tahun 1212 M, tentara Kristen memperoleh kemenangan besar di Las Navas de Tolesa. Kekalahan-kekalahan yang dialami Muwahhidun menyebabkan penguasanya memilih untuk meninggalkan Spanyol dan kembali ke Afrika Utara tahun 1235 M. Keadaan Spanyol kembali runyam, berada di bawah penguasa-penguasa kecil. Dalam kondisi demikian, umat Islam tidak mampu bertahan dari serangan-serangan Kristen yang semakin besar. Tahun 1238 M Cordova jatuh ke tangan penguasa Kristen dan Seville jatuh tahun 1248 M. Seluruh Spanyol kecuali Granada lepas dari kekuatan Islam.
6. Periode Keenam (1248-1492 M)
Pada periode ini, Islam hanya berkuasa di daerah Granada, di bawah dinasti Bani Ahmar (1232-1492). Peradaban kembali mengalami kemajuan seperti di zaman Abdurrahman an-Nashir. Akan tetapi, secara politik, dinasti ini hanya berkuasa di wilayah yang kecil. Kekuasaan Islam yang merupakan pertahanan terakhir di Spanyol ini berakhir karena perselisihan orang-orang istana dalam memperebutkan kekuasaan. Abu Abdullah Muhammad merasa tidak senang kepada ayahnya karena menunjuk anaknya yang lain sebagai penggantinya menjadi raja. Dia memberontak dan berusaha merampas kekuasaan. Dalam pemberontakan itu, ayahnya terbunuh dan digantikan oleh Muhammad ibn Sa'ad. Abu Abdullah kemudian meminta bantuan kepada Ferdinand dan Isabella untuk menjatuhkannya. Dua penguasa Kristen ini dapat mengalahkan penguasa yang sah dan Abu Abdullah naik tahta.
Tentu saja, Ferdinand dan Isabella yang mempersatukan dua kerajaan besar Kristen melalui perkawinan itu tidak cukup merasa puas. Keduanya ingin merebut kekuasaan terakhir umat Islam di Spanyol. Abu Abdullah tidak kuasa menahan serangan-serangan orang Kristen tersebut dan pada akhirnya mengaku kalah. Ia menyerahkan kekuasaan kepada Ferdinand dan Isabella, kemudian hijrah ke Afrika Utara. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol tahun 1492 M. Umat Islam setelah itu dihadapkan kepada dua pilihan, masuk Kristen atau pergi meninggal Spanyol. Pada tahun 1609 M, boleh dikatakan tidak ada lagi umat Islam di daerah ini.

Pada masa Bani Umayah beberapa kemajuan di bebagai sektor berhasil dicapai. Antara lain dibidang arsitektur, perdagangan, organisasi militer dan seni.
1. Arsitektur
Pada masa Bani Umayah bidang arsitektur maju pesat. Terlihat dari bangunan-bangunan artistik serta masjid-masjid yang memenuhi kota. Kota lama pun dibangun menjadi kota modern. Mereka memadukan gaya Persia dengan nuansa Islam yang kental di setiap bangunannya.
Adapun pada masa Walid dibangun sebuah masjid agung yang terkenal dengan sebutan Masjid Damaskus yang diarsiteki oleh Abu Ubaidah bin Jarrah. Sedangkan kota baru yang dibangun di zaman ini adalah Kota Kairawan. Didirikan oleh Uqbah bin Nafi ketika dia menjabat sebagai gub ernur.
2. Organisasi militer
Di zaman ini militer dikelompokkan menjadi 3 angkatan. Yaitu angkatan darat (al-jund), angkatan laut (al-bahiriyah) dan angkatan kepolisian.
3. Perdagangan
Setelah Bani Umayah berhasil menaklukkan bebagai wilayah, jalur perdangan jadi semakin lancar. Ibu kota Basrah di teluk Persi pun menjadi pelabuhan dagang yang ramai dan makmur, begitu pula kota Aden.
4. Kerajinan
Ketika khalifah Abdul Malik menjabat, mulailah dirintis pembuatan tiras (semacam bordiran), yakni cap resmi yang dicetak pada pakaian khalifah dan para pembesar pemerintahan.
KESIMPULAN
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Bani Umayah dimulai dengan pengangkatan Muawiyah sebagai khalifah dengan cara yang tidak demokratis pada tahun 41 H. Selanjutnya sistem kepemimpinan dilangsungkan secara monarchiheridetis (kerajaan turun temurun) selama 91 tahun. Peristiwa penting yang terjadi pada masa itu antara lain terbunuhnya Husein bin Ali di Karbala pada masa pemerintahan Yazid bin Muawiyah.
Meski demikian, Bani Umayah mencatatkan beberapa kamajuan, terutama di bidang arsitektur, perdagangan, militer dan kesenian. Adapun masa keemasan terjadi ketika tampuk kepemimpinan berada di tangan Abdul Malik bin Marwan sampai Umar bin Abdul Aziz.

DAFTAR PUSTAKA
Ted-go.blogspot.com